Al-Azhar News
Home | Artikel | Nama Besar Yayasan Al-Azhar

Nama Besar Yayasan Al-Azhar

isno
Isno

Oleh: ISNO, S.Pd.I, M.Pd.I
(Anggota Pembina Yayasan Al-Azhar)

Apa yang tertanam dibenak orang apabila mendengar Al-Azhar? Saya yakin banyak orang, kesan pertama yang muncul adalah nama Universitas yang tertua dan terkenal di Kairo Mesir. Al-Azhar merupakan piranti peradaban besar Islam kala itu. Dan hingga kini, ia masih tetap menjadi poros keilmuan dan peradaban Islam yang belum ada universitas Islam lain yang mampu menandinginya. Sebab di Universitas tersebut, mampu melahirkan ulama-ulama besar yang menjadi panutan kaum Muslimin di seluruh dunia.

Yayasan Al-Azhar, mewarisi nama besar itu. Ia bisa menjadi harapan, tantangan atau bahkan bisa menjadi boomerang. Harapan dan tantangannya adalah bagaimana kita tetap mampu menjaga nama besar itu, dengan memelihara atau menciptakan Al-Azhar sebagai poros keilmuan dan pembangunan kebudayan Islam, minimal dalam lingkup Mojokerto. Dan tentu memulai dengan pendidikan, sebagaimana telah berdiri unit-unit Play Group, TK, SD dan SMP Al-Azhar adalah langkah strategis dalam menebarkan bibit-bibit kader Islam yang hebat. Sebab pendidikanlah kawah candradimuka dalam mengembangkan pemikiran yang dikemudian akan menjadi laku yang mencerminkan dari halus akal budi seseorang.

alz

Karenanya, diperlukan integralisasi antara Play Group, TK, SD, hingga SMP. Integralisasi itu akan menghasilkan ciri khas ke-Al-Azhar-an, ada kelanjutan perjenjang yang bercirikan Al-Azhar. Sebab dengan memiliki ke-khas-an, maka ini akan menjadi nilai tawar di tengah masyarakat. Terlebih ditengah persaingan antar lembaga pendidikan dan ditengah masyarakat yang kritis serta jeli menilai dan memilih lembaga pendidikan. Maka ke-khas-an atau keunikan, nilai yang berbeda dengan lembaga lain, menjadi penting.

Lalu bagaimana membangun ke-khas-an itu? Ini memerlukan rembuk bersama dalam mengembangkannya. Sebab, tanpa adanya rembuk bersama, maka konsep-konsep ke-khas-an akan hanya menjadi lembaran-lembaran emas di atas meja.

Secara teoritis, kurikulum terbagi menjadi dua. Written curriculum dan hidden curriculum. Written curriculum secara gamblangnya adalah kurikulum yang tertera. Dan ini telah dikembangkan dengan sangat baik oleh Yayasan, Kepala sekolah dan pengembang kurikulum dalam mewujudkan kurikulum yang disesuaikan dengan kurikulum nasional disamping tambahan kurikulum yang khas dari masing-masing unit.

Sedangkan hidden curriculum adalah kurikulum yang tidak tertulis. Ia berupa kultur-kultur yang dikembangkan. Dan di wilayah hidden curriculum inilah sekolah harusnya mampu mengembangkan secara maksimal. Sebab dengan pemaksimalan hidden curriculum ini akan melahirkan ke-khas-an itu sendiri.

Misalnya saja, bagaimana Al-Azhar mengembangkan sikap sadar dan terbiasa hidup disiplin, sadar dan terbiasa menjalani tata tertib, sadar dan terbiasa hidup dalam ketaatan ibadah kepada Allah, sadar dan terbiasa menjalankan amanah, sadar dan terbiasa hidup dengan akhlak mulia, sadar dan terbiasa hidup bersih, sadar dan terbiasa hidup dalam semangat keilmuan, sadar dan terbiasa hidup dalam damai dan lain sebagainya. Baik oleh guru maupun para siswanya.

Apabila sudah tercipta suasana demikian, maka saya yakin, cita-cita memikul nama besar Al-Azhar sebagai poros kebudayaan Islam, dalam lingkup Mojokerto, akan menjadi kenyataan. Dan saya yakin pula animo masyarakat terhadap Al-Azhar akan semakin meningkat.

Tentu bukan hanya itu saja goal ultimate-nya. Tetapi lebih jauh bahwa dengan pendidikan yang bagus dan berkualitas serta berkarakter, lembaga bisa mampu mengantarkan anak didiknya menemukan jalan kebenaran menuju ke Tuhannya. Dan untuk mengantarkan hingga sampai ke sana tentu berbagai prasyarat bisa dialamatkan. Dan tentu beratnya terletak disini, dalam mengembangkan tugas sebagai seorang guru.

Misalnya gurunya harus menjadi tauladan, memiliki sprititualitas tinggi, berakhlak mulia dan memiliki ilmu yang kredibel di bidangnya dan lain-lainnya. Dengan memenuhi prasyarat demikian, maka guru akan lebih mudah memberi sugesti dan transfer nilai kepada anak didiknya. Sebab guru memiliki interaksi lebih dengan anak didiknya daripada orang tua. Terlebih, dalam program Al-Azhar, mengembangkan sekolah Full Day.

Karenanya berbenah dan berbenah adalah kunci untuk terus bisa mewujudkan cita-cita agung tersebut. Guru harus mau belajar. Mau diberi masukan. Pun halnya dengan lembaga. Lembaga harus melompat lebih jauh dari cara pandangnya, dalam mewujudkan cita-cita ideal menjadikan lembaga yang kredibel dan dipercaya sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas.

Akhirnya, dengan niat ikhtiar maksimal, saya yakin Yayasan Al-Azhar, yang menyandang nama besar tersebut, akan mampu besar sebesar namanya. Dengan prasyarat, sebagaimana pernah menjadi motto mantan Presiden RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, “Bersama Kita Bisa”.[]

Lihat Juga

Hari Santri Nasional (HSN) – 22 Oktober

Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober – Hari Sabtu, 22 Oktober 2016 diperingati sebagai Hari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × five =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.