Al-Azhar News
Home | Artikel | Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah

Ahl Al-Sunnah Wa Al-Jama’ah

qie
Syauqie Advan F

Oleh: Syauqie Advan F
(Pembina Yayasan Al-Azhar)

Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah sebagai sebuah mainstream keagamaan, sepanjang sejarahnya selalu didukung oleh mayoritas umat Islam. Ini merupakan salah satu karakter par-exellence dalam kedirian Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, yaitu sawad al-a’dzam (kelompok mayoritas). Namun demikian, sebagai sebuah entitas keagamaan, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah menampilkan wajah yang membingungkan. Hal ini disebabkan kenyataan adanya perbedaan-perbedaan yang signifikan, dan bahkan pertentangan antar generasi dan antar komunitas yang sama-sama mengklaim sebagai pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Karena itu, menjadi kebutuhan kita bersama untuk mengurai Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam pengertian generik dan universalnya, untuk dapat membedakan dengan implementasi primordial dan sangat terbatas oleh kelompok atau komunitas tertentu terhadap entitas itu.

Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam Dinamika Sejarah
Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan identitas bagi komunitas yang menjauhkan diri dari konflik politik antar umat Islam, serta memilih lebih berkonsentrasi pada gerakan-gerakan kultural. Komunitas ini lahir pada era tabi’in1)Tabi’in (bahasa Arab: التابعون, pengikut), adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad. Usianya tentu saja lebih muda dari Sahabat Nabi bahkan ada yang masih anak-anak atau remaja pada masa Sahabat masih hidup. Tabi’in merupakan murid Sahabat Nabi. dan berpusat pada tradisi ilmiah yang dikembangkan oleh Hasan al-Bishri. Tradisi ini melahirkan para cendekiawan seperti al-Asy’ari, al-Maturidzi, dan para Imam Madzhab empat. Marshall Hadgson dalam bukunya “The Venture of Islam”, menyebut fenomena ini sebagai “proto-sunnisme” (embrio aliran Sunni).

Berikutnya Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan identitas dari para pendukung teologi2)Teologi (bahasa Yunani θεος, theos, “Allah, Tuhan”, dan λογια, logia, “kata-kata,” “ucapan,” atau “wacana”) adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan. yang dikembangkan Asy’ari. Az-Zabidi (salah satu murid Asy’ari) menyatakan: “Jika disebut Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, maka yang dimaksud adalah pengikut Asy’ari”. Seperti diketahui, formulasi teologi Asy’ari merupakan jalan tengah diantara dua ekstremitas teologis ketika itu: Mu’tazilah3)Aliran Mu’tazilah (i’tazala anna; “memisahkan diri”) muncul di Basra, Irak, pada abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha’ (700-750 M) berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mu’min bukan kafir yang berarti ia fasik. Wasil bin Atha’ berpendapat mu’min berdosa besar masih berstatus mu’min. dan Mujassimah4)Aliran Mujassimah adalah orang yang membendakan Tuhan. Menyatakan Tuhan itu bersifat materi. ; Qadariyah5)Qadariyah (bahasa Arab: قدرية) adalah sebuah ideologi dan sekte bid’ah di dalam akidah Islam yang muncul pada pertengahan abad pertama Hijriah di Basrah, Irak. Kelompok ini memiliki keyakinan mengingkari takdir, yaitu bahwasanya perbuatan makhluk berada di luar kehendak Allah dan juga bukan ciptaan Allah. Para hamba berkehendak bebas menentukan perbuatannya sendiri dan makhluk sendirilah yang menciptakan amal dan perbuatannya sendiri tanpa adanya andil dari Allah. dan Jabbariyah6)Jabbariyah adalah sebuah ideologi dan sekte bidah di dalam akidah yang muncul pada abad ke-2 hijriah di Khurasan. Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.. Akan tetapi yang kelihatan dominan pada era ini, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah berhadap-hadapan dengan rasionalis Mu’tazilah.

Resistensi dari berkembangnya teologi Asy’ari, kemudian muncul dari kelompok skriptualis pendukung Ibn Hanbal. Pertentangan antara dua kelompok ini sangat tajam, hingga tidak hanya pada ranah pengembangan wacana dan saling mengkafirkan, tetapi sudah mulai mengarah kepada konflik fisik dan terbuka. Dengan demikian pada era ini, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah berposisi vis-à-vis Ahl al-Hadits dan Ahl al-Ra’y di sisi yang lain.

Diskursus Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah mengalami pelembagaan era al-Qadir dan al-Ma’mun (abad 11 H) dari Dinasti Abbasyiyah7)Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: الخلافة العباسية, al-khilāfah al-‘abbāsīyyah) atau Bani Abbasiyah (Arab: العباسيون, al-‘abbāsīyyūn) adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak).. Dimulai dengan  dikeluarkannya Risalah qadiriyah (al-Qadir Creed) yang memformalkan produk hukum empat madzhab (Maliki, Hanafi, Hanbali, dan Syafi’i) sebagai hukum positif negara. Lembaga peradilan ketika itu, memakai kodifikasi hukum madzhab empat sebagai acuannya. Dan di atas semuanya itu, al-Mawardi sebagai ulama bermadzhab Syafi’i, diangkat sebagai Qadli al-Quddat (hakim agung) yang berfungsi memutuskan persengketaan antar peradilan madzhab-madzhab, sekaligus sebagai konsultan hukum pemerintahan al-Qadir. Pada era ini, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam posisi berhadap-hadapan dengan Syi’ah.

Pada era kontemporer, Ketika berkembang isu “pembaharuan Islam” yang secara teologis merujuk pada pemikiran Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab (wahhabiyah)8)Wahhabiyah (Arab: وهابية, Wahhābiyah) adalah sebuah gerakan keagamaan dari Islam. Gerakan ini dikembangkan oleh seorang teolog Muslim abad ke-18 yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab dari Najd, Arab Saudi, yang bertujuan untuk membersihkan dan menyempurnakan ajaran Islam kepada ajaran yang sesungguhnya berdasarkan Qur’an dan hadis dari “ketidakmurnian” seperti praktek-praktek bid’ah, syirik dan khurafat., Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah berposisi diametral dengan arus ini. Seperti diketahui, gerakan pembaharuan Islam bertumpu pada upaya purifikasi Islam yang digerakkan secara puritan, dengan mengambil referensi dominan skriptualisme Ibn Hanbal, Ibn Taymiyah, dan Ibn Qayyim al-Jawziyah. Mereka ini, dengan jargon “ruju’ ia al-Qur’an wa a-Sunnah” dan dengan klaim “muhyi atsari al-salaf”, ingin membongkar praktik-praktik keagamaan yang dianggap terkontaminasi budaya lokal dan ideologi diluar Islam. Kelompok pendukung Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam hal ini berpijak pada tradisi untuk membendung arus “pembaharuan” kalangan Wahhabiyah ini. Di sisi lain, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah juga menjadi respons atas gagasan modernisme yang cenderung mengadopsi pranata-pranata –termasuk paradigma yang berkembang di—Barat.

Meletakkan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah secara Tepat
Pengalaman sejarah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam dinamika umat Islam era klasik sampai kontemporer, seperti terurai singkat di atas menggambarkan bahwa entitas ini menunjuk pada sistem keberagamaan moderat (al-tawasuth). Sehingga dengan demikian, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah menolak segala bentuk ekstremitas pemikiran maupun gerakan keagamaan dan mencoba mencarikan jalan tengah sebagai solusi alternatif dari kecenderungan kedua ekstremitas.

Kendatipun demikian, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah juga tidak serta merta jalan puritan sebagai bagian untuk memperjuangkan ideologi ini, karena puritanisme adalah bagian dari ekstremitas di satu sisi. Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah lebih mengedepankan prinsip toleran (al-tasamuh) dalam melihat realitas keagamaan dan aktualisasinya yang berbeda-beda. Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah tidak pernah menampakkan wajahnya yang “geram” dan “garang” di dalam perang pemikiran (ghazw al-fikr).

Dalam konteks dinamika pemikiran Islam kontemporer, yang diwarnai dengan berbagai kecenderungan, pilihan terhadap Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah secara tipikal dapat diamati dari konsistensi memegangi kedua prinsip di atas. Secara tipikal, substansi pemikiran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, dapat sama atau serupa dengan ideologi-ideologi dunia, atau merupakan perpaduan sisi-sisi tertentu dari kecenderungan berbeda ideologi-ideologi tersebut. Namun yang pasti di dalam pandangan dunia (world-view) Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, selalu menampakkan moderasi dan toleransinya. Karakter par-exellence  ini, memang kadang-kadang menampakkan fleksibilitas Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, tetapi juga sangat rentan menimbulkan sikap opportunistik bagi kalangan pendukungnya, lebih-lebih dalam wilayah sosial, ekonomi, dan politik.

Sejarah panjang Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, juga membuktikan bahwa paham atau aliran ini selalu didukung oleh mayoritas umat. Hal ini, karena secara faktual, ia mampu berada di jalan tengah bagi setiap ektremitas. Oleh karena itulah di dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah juga ada prinsip al-Sawad al-A’dham (prinsip apresiasi –terhadap—mayoritas). Prinsip ini juga mengandaikan kebenaran di atas dukungan mayoritas umat, yang berkesesuaian dengan demokrasi modern. Akan tetapi, meminjam istilah Robert Pikney (1994), Demokrasi dimaksud tidak dalam kerangka radical democracy yang lebih mengutamakan logika dan prosedur di atas dasar mayoritas populasi, tetapi lebih didasarkan pada mayoritas politik (vote). makna formal demokrasi (the radicalization af formal democracy), seperti diungkap Brown (1988), dengan demikian tidak menjadi kecenderungan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, karena Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah lebih mengutamakan substansinya.

Kelompok-kelompok umat Islam yang menyatakan merupakan bagian dari pendukung paham atau aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah ini jumlahnya memang banyak, sebanyak perbedaan yang ada diantara kelompok-kelompok itu. Ini karena, Formulasi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, sampai saat ini memang belum tuntas. Sehingga implementasinya menimbulkan banyak varian. Tradisi keagamaan NU dengan rumusan “Aswaja”-nya, dalam hal ini adalah salah satu varian Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah Sebagai sebuah ideologi, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah memang masih harus melalui prosesnya yang panjang, namun jika sebatas sebagai manhaj, prinsip-prinsip utama di atas, kiranya dapat dipertimbangkan.

Aswaja-NU:  Pemahaman Singkat tentang Prinsip dan Ajarannya
Seperti dipaparkan di atas, Aswaja-NU adalah implementasi Ahlussunnah wa al-Jama’ah oleh kalangan tradisionalis Islam di Indonesia. Eksistensi Komunitas ini dikenal sejak penyebaran Islam era pertama di Indonesia yang ditandai dengan berdirinya pusat-pusat pengajaran Islam berupa pesantren di seluruh nusantara. Tradisi keagamaan yang sudah lama berkembang itulah yang kemudian diformalkan dengan pembentukan sebuah organisasi bernama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU)9)Nahdlatul ‘Ulama (Kebangkitan ‘Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi. pada tahun 1926 M.

Nahdlatul Ulama
Lambang Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama

Berdirinya organisasi ini, selain karena tuntutan dinamika lokal juga karena momentum internasional yang terjadi pada waktu itu. Pada tingkat lokal, ulama-ulama dari sayap pesantren merasa perlu mengkonsolidasikan diri untuk memagari tradisi-tradisi keagamaan yang sudah ada dari ”serangan” dakwah kalangan modernis. Mereka ini merupakan kelanjutan dari misi penyebaran ajaran Wahhabi dengan isu utamanya yang dikenal dengan ”anti TBC” (Tachayul10)Takhayul (bahasa Inggris: Superstition) adalah sesuatu yang hanya berdasarkan pada khayalan belaka., Bid’ah11)Bid’ah (Arab:بدعة) adalah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Secara linguistik, istilah ini memiliki arti inovasi, pembaruan, atau doktrin sesat. dan Khurafat12)Khurafat (Bahasa Arab: خرافة‎) ialah kepercayaan karut atau tahyul yang diada-adakan berpandukan kepada perbuatan-perbuatan dan kejadian-kejadian alam yang berlaku.). Dalam konteks internasional, para ulama berkepentingan untuk bersatu guna menyampaikan aspirasi umat Islam Indonesia tentang kebebasan bermadzhab dan menentang gagasan pemusnahan situs-situs bersejarah di Haramayn (Makkah dan Madinah). Hal itu terjadi karena Penguasa Hijaz yang baru, Ibn Sa’ud, hendak menerapkan paham Wahhabi di wilayah kekuasaannya itu.

Dalam ”Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyat Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah” (Preambule AD-ART NU) yang ditulis Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari secara tegas terdapat ajakan kepada para ulama Ahl al-Sunnah wal Jama’ah untuk bersatu memagari umat dari propaganda pada ”ahli bid’ah”. Yang dimaksud tentu saja adalah orang-orang pendukung ajaran Wahhabi yang dalam dakwahnya selalu mencela tradisi-tradisi seperti tahlilan13)Tahlilan adalah ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam, kebanyakan di Indonesia dan kemungkinan di Malaysia, untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000., ziyarah qubur, qunut, tawassul14)Tawassul: memohon atau berdoa kepada Allah Swt. dengan perantaraan nama seseorang yang dianggap suci dan dekat kepada Tuhan. dan lain-lain sebagai perbuatan Bid’ah. Selain itu, mereka menganggap kebiasaan-kebiasaan para santri yang lain sebagai sesuatu yang mengandung unsur Tahayyul dan Khurafat. Mereka juga menyatakan bahwa kepengikutan terhadap ajaran madzhab merupakan sumber bid’ah, dan oleh karenanya umat Islam harus berijtihad (ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah).

Dengan demikian, yang dimaksud dengan ”Aswaja” oleh NU adalah pola keberagamaan bermadzhab. Pola ini diyakini menjamin diperolehnya pemahaman agama yang benar dan otentik, karena secara metodologis dapat dipertanggungjawabkan transmisinya dari Rasulullah SAW sebagai penerima wahyu sampai kepada umat di masa kini. Metode ini mempersyaratkan adanya Tasalsul (mata rantai periwayatan).

Selain itu, pola ini mengandung penghargaan terhadap tradisi lama yang sudah baik dan  sikap responsif terhadap inovasi baru yang lebih bagus (al-muhafadhoh ’ala al-qadim al-shalih wa al-akhd bi al-jadid al-ashlah). Dengan demikian, dalam konteks budaya, Aswaja mengajarkan kita untuk lebih selektif terhadap pranata budaya kontemporer, tidak serta merta mengadopsinya sebelum dipastikan benar-benar mengandung maslahat. Demikian juga terhadap tradisi lama yang sudah berjalan, tidak boleh meremahkan dan mengabaikannya sebelum benar-benar dipastikan tidak lagi relevan dan mengandung maslahat. Sebaiknya tradisi-tradisi tersebut perlu direaktualisasi sesuai dengan perkembangan aktual apabila masih mengandung relevansi dan kemaslahatan.

Pada perkembangannya, definisi Aswaja berkembang menjadi sebagai berikut : ”Paham keagamaan yang dalam bidang Fiqh mengikuti salah satu dari madzhab empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) ; dalam bidang Aqidah mengikuti Imam Asy’ari dan Imam Maturidzi, dan dalam bidang Tasawuf mengikuti Imam Ghazali dan Imam Junayd al-Baghdady”. Definisi tersebut sebenarnya merupakan penyederhanaan dari konsep keberagamaan bermadzhab.15)Madzhab (bahasa Arab: مذهب, madzhab) adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan madzhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Menurut para ulama dan ahli agama Islam, yang dinamakan madzhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah.

Pada Munas Alim Ulama di Lombok, dicetuskan bahwa kepengikutan terhadap madzhab tidak hanya secara Qawlan (produk yang dihasilkan) saja, tetapi juga Manhajiyyan (metode berpikirnya). Keputusan Ini juga menjadi jawaban atas kritikan bahwa pola bermadzhab dalam tradisi keagamaan NU itu ternyata membuat umat jumud, tidak berkembang. NU juga telah merumuskan pedoman sikap bermasyarakat yang dilandasi paham Aswaja, yakni Tawasuth (moderat), Tasamuh (toleran), Tawazun (serasi dan seimbang), I’tidal (adil dan tegas), dan Amar Ma’ruf Nahy Munkar (menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemunkaran).

Aswaja juga mengandung ajaran tentang sikap menghargai mayoritas dan perbedaan. Oleh karenanya, NU sebagai penganut Aswaja lebih apresiatif terhadap paradigma demokrasi. Bagi NU, perbedaan di tengah umat merupakan keniscayaan. Karena itu harus disikapi secara arif dengan mengedepankan musyawarah. Tidak boleh disikapi secara radikal dan ekstrem hanya karena keyakinan atas kebenaran sepihak. Dalam Aswaja dikenal dengan prinsip al-Sawad al-A’dham, berdasarkan hadits Nabi: ikhtilaf ummati rahmat, fa idza raiytum ikhtilaf fa’alaykum bi sawad al-a’dzam… (perbedaan di tengah ummatku adalah rahmat, karena itu jika kalian menjumpai perbedaan, ikutilah golongan yang terbanyak). Prinsip al-Sawad al-A’dhom ini didasarkan atas asumsi populer sebagaimana dalam hadits: ”La tajtami’u ummati ’ala al-dlalalah” (umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan).

Sikap kemasyarakatan seperti di ataslah yang membuat NU dapat diterima dan bekerjasama dengan semua kalangan, baik dalam internal umat Islam, lintas agama dan bahkan dalam hubungan-hubungan internasional. Hal ini dikarena NU mampu menyajikan Islam yang rahmatan lil-’Alamin, ramah, toleran, dan tidak ekstrem.[]

paham kegamaan 1
Gambar 1: Bagan ini untuk membedakan paham keagamaan Kalangan Modernis dan Kalangan Tradisionalis dalam hal teologi.
paham kegamaan 2
Gambar 2: Bagan ini untuk membedakan paham keagamaan Kalangan Modernis dan Kalangan Tradisionalis dalam karakter.

Catatan Kaki   [ + ]

1.Tabi’in (bahasa Arab: التابعون, pengikut), adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad. Usianya tentu saja lebih muda dari Sahabat Nabi bahkan ada yang masih anak-anak atau remaja pada masa Sahabat masih hidup. Tabi’in merupakan murid Sahabat Nabi.
2.Teologi (bahasa Yunani θεος, theos, “Allah, Tuhan”, dan λογια, logia, “kata-kata,” “ucapan,” atau “wacana”) adalah wacana yang berdasarkan nalar mengenai agama, spiritualitas dan Tuhan.
3.Aliran Mu’tazilah (i’tazala anna; “memisahkan diri”) muncul di Basra, Irak, pada abad 2 H. Kelahirannya bermula dari tindakan Wasil bin Atha’ (700-750 M) berpisah dari gurunya Imam Hasan al-Bashri karena perbedaan pendapat. Wasil bin Atha’ berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mu’min bukan kafir yang berarti ia fasik. Wasil bin Atha’ berpendapat mu’min berdosa besar masih berstatus mu’min.
4.Aliran Mujassimah adalah orang yang membendakan Tuhan. Menyatakan Tuhan itu bersifat materi.
5.Qadariyah (bahasa Arab: قدرية) adalah sebuah ideologi dan sekte bid’ah di dalam akidah Islam yang muncul pada pertengahan abad pertama Hijriah di Basrah, Irak. Kelompok ini memiliki keyakinan mengingkari takdir, yaitu bahwasanya perbuatan makhluk berada di luar kehendak Allah dan juga bukan ciptaan Allah. Para hamba berkehendak bebas menentukan perbuatannya sendiri dan makhluk sendirilah yang menciptakan amal dan perbuatannya sendiri tanpa adanya andil dari Allah.
6.Jabbariyah adalah sebuah ideologi dan sekte bidah di dalam akidah yang muncul pada abad ke-2 hijriah di Khurasan. Jabariyah memiliki keyakinan bahwa setiap manusia terpaksa oleh takdir tanpa memiliki pilihan dan usaha dalam perbuatannya. Tokoh utamanya adalah Ja’ad bin Dirham dan Jahm bin Shafwan.
7.Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: الخلافة العباسية, al-khilāfah al-‘abbāsīyyah) atau Bani Abbasiyah (Arab: العباسيون, al-‘abbāsīyyūn) adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak).
8.Wahhabiyah (Arab: وهابية, Wahhābiyah) adalah sebuah gerakan keagamaan dari Islam. Gerakan ini dikembangkan oleh seorang teolog Muslim abad ke-18 yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab dari Najd, Arab Saudi, yang bertujuan untuk membersihkan dan menyempurnakan ajaran Islam kepada ajaran yang sesungguhnya berdasarkan Qur’an dan hadis dari “ketidakmurnian” seperti praktek-praktek bid’ah, syirik dan khurafat.
9.Nahdlatul ‘Ulama (Kebangkitan ‘Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, adalah sebuah organisasi Islam besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.
10.Takhayul (bahasa Inggris: Superstition) adalah sesuatu yang hanya berdasarkan pada khayalan belaka.
11.Bid’ah (Arab:بدعة) adalah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan. Secara linguistik, istilah ini memiliki arti inovasi, pembaruan, atau doktrin sesat.
12.Khurafat (Bahasa Arab: خرافة‎) ialah kepercayaan karut atau tahyul yang diada-adakan berpandukan kepada perbuatan-perbuatan dan kejadian-kejadian alam yang berlaku.
13.Tahlilan adalah ritual/upacara selamatan yang dilakukan sebagian umat Islam, kebanyakan di Indonesia dan kemungkinan di Malaysia, untuk memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, dan selanjutnya dilakukan pada hari ke-40, ke-100, kesatu tahun pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Ada pula yang melakukan tahlilan pada hari ke-1000.
14.Tawassul: memohon atau berdoa kepada Allah Swt. dengan perantaraan nama seseorang yang dianggap suci dan dekat kepada Tuhan.
15.Madzhab (bahasa Arab: مذهب, madzhab) adalah istilah dari bahasa Arab, yang berarti jalan yang dilalui dan dilewati, sesuatu yang menjadi tujuan seseorang baik konkrit maupun abstrak. Sesuatu dikatakan madzhab bagi seseorang jika cara atau jalan tersebut menjadi ciri khasnya. Menurut para ulama dan ahli agama Islam, yang dinamakan madzhab adalah metode (manhaj) yang dibentuk setelah melalui pemikiran dan penelitian, kemudian orang yang menjalaninya menjadikannya sebagai pedoman yang jelas batasan-batasannya, bagian-bagiannya, dibangun di atas prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah.

Lihat Juga

Transformasi Paradigma Zakat

*diterbitkan di Jawa Pos, Radar Mojokerto edisi 24 Mei 2018 Oleh: Drs. KH. Ma’shum Maulani, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eight − 7 =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.