Al-Azhar News
Home | Artikel | Bagaimana Menghapal Al-Qur’an dan Apa Saja Yang Dapat Menghalangi Hafalan?

Bagaimana Menghapal Al-Qur’an dan Apa Saja Yang Dapat Menghalangi Hafalan?

1

Sebagai seorang mukmin, kita tentunya berkeinginan untuk dapat menghafal al-Quran dan setiap kita pasti memimpikan agar dapat melahirkan anak-anak yang hafal al-Quran(hafidz/hafidzah). Berikut ini ada beberapa cara/kaidah dasar untuk memudahkan menghafal, diantaranya:

Mengikhlaskan Niat Hanya Untuk Allah SWT.

Memperbaiki tujuan dan bersungguh-sungguh menghafal al-Quran hanya karena Allah SWT serta untuk mendapatkan syurga dan keridhaan-Nya. Tidak ada pahala bagi siapa saja yang membaca al-Quran dan menghafalnya karena tujuan keduniaan, karena riya atau sum’ah (ingin didengar orang), dan perbuatan seperti ini jelas menjerumuskan pelakunya kepada dosa.

Dorongan dari Diri Sendiri, Bukan Karena terpaksa.

Ini adalah asas bagi setiap orang yang berusaha untuk menghafal al-Quran. Sesungguhnya siapa yang mencari kelezatan dan kebahagiaan ketika membaca al-Quran maka dia akan mendapatkannya.

Membenarkan Ucapan dan Bacaan.

Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan dari orang yang baik bacaan al-Qurannya atau dari orang yang hafal al-Quran. Rasulullah SAW sendiri mengambil/belajar al-Quran dari Malaikat Jibril AS secara lisan. Setahun sekali pada bulan Ramadhan secara rutin Malaikat Jibril menemui beliau untuk muraja’ah hafalan beliau. Pada tahun Rasulullah SAW diwafatkan, Malaikat Jibril menemui beliau sampai dua kali.

Para sahabat Nabi juga belajar al-Quran dari Rasulullah SAW secara lisan demikian pula generasi-generasi terbaik setelah mereka. Pada masa sekarang para penghafal al-Qur’an harus mempunyai guru yang baik dan bagus bacaannya serta jelas sanad keilmuannya. Wajib bagi penghafal al-Quran untuk tidak menyandarkan kepada dirinya sendiri dalam hal bacaan al-Quran dan tajwidnya.

Membuat Target Hafalan Setiap Hari.

Misalnya menargetkan sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman, satu lampir, seperempat lampir atau bisa ditambah/dikurangi dari target tersebut sesuai dengan kemampuan. Yang jelas target yang telah ditetapkan sebisa mungkin untuk dipenuhi.

Membaguskan Hafalan.

Tidak boleh beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Hal ini dimaksudkan untuk memantapkan hafalan di hati. Dan yang demikian dapat dibantu dengan mempraktekkannya dalam setiap kesibukan sepanjang siang dan malam.

Menghafal dengan Satu Mushaf.

Hal ini dikarenakan manusia dapat menghafal dengan melihat sebagaimana bisa menghafal dengan mendengar. Dengan membaca/melihat akan terbekas dalam hati bentuk-bentuk ayat dan tempat-tempatnya dalam mushaf.

Bila orang yang menghafal al-Quran itu merubah/mengganti mushaf yang biasa ia pakai menghafal dengannya maka hafalannya pun akan berbeda-beda pula dan ini akan mempersulit dirinya.

Memahami adalah Salah Satu Jalan Untuk Menghafal.

Di antara hal-hal yang paling besar/dominan yang dapat membantu untuk menghafal al-Quran adalah dengan memahami ayat-ayat yang dihafalkan dan juga mengenal segi-segi keterkaitan antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.

Oleh sebab itu seharusnya bagi penghafal al-Quran untuk membaca tafsir dari ayat-ayat yang dihafalnya, untuk mendapatkan keterangan tentang kata-kata yang asing atau untuk mengetahui sebab turunnya ayat atau memahami makna yang sulit atau untuk mengenal hukum yang khusus.

Setelah memiliki kemampuan yang cukup, untuk meluaskan pemahaman dapat menelaah kitab-kitab tafsir yang berisi penjelasan yang panjang seperti Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir As-Sadi dan Adhwaaul Bayaan oleh Asy-Syanqithi. Wajib pula menghadirkan hatinya pada saat membaca al-Quran.

Tidak Pindah ke Surat Lain Sebelum Hafal Benar Surat yang Sedang Dihafalkan.

Setelah sempurna satu surat dihafalkan, tidak sepantasnya berpindah ke surat lain kecuali setelah benar-benar sempurna hafalannya dan telah kokoh dalam dada.

Sering Men-tashih-kan Hafalan (disimak oleh orang lain).

Orang yang menghafal al-Quran tidak sepantasnya menyandarkan hafalannya kepada dirinya sendiri. Tetapi wajib atasnya untuk memperdengarkan kepada seorang hafidz atau mencocokkannya dengan mushaf. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kesalahan dalam ucapan, atau syakal ataupun lupa.

Banyak sekali orang yang menghafal dengan hanya bersandar pada dirinya sendiri (tanpa adanya guru), sehingga terkadang ada yang salah/keliru dalam hafalannya tetapi tidak ada yang menegur kesalahan tersebut.

Selalu Menjaga Hafalan dengan Muraja’ah.

Rasulullah SAW bersabda: “Jagalah benar-benar al-Quran ini, demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, al-Quran lebih cepat terlepas daripada onta yang terikat dari ikatannya.” Maka seorang yang menghafal al-Quran bila membiarkan hafalannya sebentar saja niscaya ia akan terlupakan.

Bersungguh-sungguh dan Memperhatikan Ayat yang Serupa.

Khususnya yang serupa/hampir serupa dalam lafadz, maka wajib untuk memperhatikannya agar dapat hafal dengan baik dan tidak tercampur dengan surat lain.

Mencatat Ayat-ayat yang Dibaca/Dihafal.

Ada baiknya penghafal al-Quran menulis ayat-ayat yang sedang dibaca/dihafalkannya, sehingga hafalannya tidak hanya di dada dan di lisan tetapi ia juga dapat menuliskannya dalam bentuk tulisan.

Berapa banyak penghafal al-Quran yang dijumpai, mereka terkadang hafal satu atau beberapa surat dari al-Quran tetapi giliran diminta untuk menuliskan hafalan tersebut mereka tidak bisa atau banyak kesalahan dalam penulisannya.

Memperhatikan Usia yang Baik untuk Menghafal.

Usia yang baik untuk menghafal kira-kira dari umur 5 tahun sampai 25 tahun. Namun yang jelas menghafal di usia muda adalah lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua.

Pepatah mengatakan: “Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air”.

2

HAL-HAL YANG DAPAT MENGHALANGI HAFALAN

Setelah kita mengetahui beberapa kaidah dasar untuk menghafal al-Quran maka sudah sepantasnya bagi kita untuk mengetahui beberapa hal yang menghalangi dan menyulitkan hafalan agar kita dapat waspada dari penghalang-penghalang tersebut. Di antaranya:

  1. Banyaknya dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan hamba terhadap al-Quran dan terhadap dirinya sendiri. Hatinya akan buta dari ingat kepada Allah SWT.
  2. Tidak adanya upaya untuk menjaga hafalan dan mengulangnya secara terus menerus. Tidak mau men-tashih-kan bacaan/hafalan (meminta orang lain untuk menyimak) dari apa-apa yang dihafal dari al-Quran kepada orang lain.
  3. Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia yang menjadikan hatinya tergantung dengannya dan selanjutnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.
  4. Berambisi menghafal ayat-ayat yang banyak dalam waktu yang singkat dan pindah ke hafalan lain sebelum kokohnya hafalan yang lama.

Hendaknya bagi para penghafal al-Qur’an selalu memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai dan dimudahkan untuk menghafal kalam-Nya, dapat mengamalkannya, serta dapat membacanya di tengah malam dan di tepi siang.[]

3

Lihat Juga

Oleh: KH. Ma'shum Maulani
(Pengasuh Ponpes Al-Azhar)

Mensyukuri Nikmat dalam Berumah Tangga

Oleh: KH. Ma’shum Maulani (Pengasuh Ponpes Al-Azhar) Syukur adalah bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ten + 7 =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.