Meraih Sunnah Nabi dengan Melestarikan Budaya Idul Fitri

Oleh. Drs. KH. Ma’shum Maulani. M.Pd.I
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto

Kebahagiaan yang menyeruak di tengah kesedihan adalah dua hal yang kita alami saat ini, kita bahagia dengan datangnya Hari Raya sekaligus bersedih dengan perginya Bulan Ramadhan. Semoga kita termasuk hamba yang tidak hanya muslim, tapi juga mu’min dan ketika kita telah melaksanakan kewajiban kita menjalankan puasa, predikat kita menjadi muttaqiin sebagaimana tujuan disyariatkan puasa yakni la’llakum tattaqun, agar kita menjadi ummat yang bertakwa.

Ada beberapa kesunnahan sebelum Hari Raya Idul Fitri, Pertama memperbanyak takbir, sebagaimana sabda Nabi “hiasilah Hari Raya kalian dengan takbir”, bertakbir adalah mengagungkan kalimah Allah, namun esensi dari takbir adalah mengkerdilkan diri di hadapan Allah. Tidak ada kesombongan atas amalan kita selama berpuasa karena sejatinya semuanya adalah kekuatan yang diberikan Allah semata. Kedua Mandi sebelum Sholat Ied, Ketiga Sholat Ied di Masjid, kita biasanya menyaksikan banyak jamaah yang sholat Ied di tanah lapang (shahra’), hal ini diperbolehkan karena pada zaman Nabi, jamaah sholat ‘Ied di Masjid Nabawi overload sehingga diperluas di tanah lapang. Namun Imam Syafii dalam kitab Al-Umm tetap mensunnahkan sholat Ied di dalam Masjid.

Kesunnahan selanjutnya pada Hari Raya adalah berpuasa 6 hari di awal bulan Syawwal, bisa dimulai pada tanggal 2 Syawwal, sebagaimana hadis Nabi “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan 6 hari di bulan Syawwal, maka (pahalanya) seperti berpuasa setahun”

Lalu, tradisi yang sering kita jumpai saat Hari Raya diantaranya adalah Mengucapkan Selamat Hari Raya, tentang bagaimana yang seharusnya diucapkan saat Hari Raya Idul Fitri tidak perlu dengan kalimat-kalimat khusus, yang sudah menjadi tradisi adalah mengucapkan kalimat “Minal Aidin Wal Faizin”, pada zaman Nabi tidak ada kalimat khusus yang diucapkan, hanya saja sahabat mengucapkan kalimat taqabbalallahu minna wa minkum, dengan dasar ini, maka bebas kita mengucapkan Selamat Idul Fitri dengan kalimat-kalimat lain yang mengandung kebaikan.

Tradisi bersilaturrahim dan Halal bi Halal, Nabi bersabda “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan RasulNya, hendaklah bersilaturrahim”. Bersilaturrahim kepada keluarga yang tinggal tidak berdekatan dikenal dengan mudik, sebenarnya istilah mudik tidak ada pada zaman Nabi, yang perlu ditekankan adalah silaturrahimnya, karena setelah seseorang merantau pasti banyak sekali kegiatan atau pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, terkadang mereka bersilaturrahim menunggu tempat kerja libur, dan di saat lebaran lah momen liburan panjang ada, lalu muncul istilah mudik pada Hari Raya.

Bersilaturrahim dengan tetangga, sebagaimana hadis Nabi “bersilaturrahim, berakhlak baik dan bersosial dengan baik antar tetangga dapat memakmurkan kampung dan menambah panjang umur”. Halal bi Halal (Saling menghalalkan), Rasulullah bersabda “Barangsiapa pernah berbuat dzalim kepada saudaranya, maka hendaknya ia minta kehalalannya (minta maaf). Sebab disana (akhirat) tidak ada dinar dan dirham (untuk menebus kesalahan). Sebelum amal kebaikannya diambil dan diberikan kepada saudaranya yang didzalimi tersebut. Jika ia tidak memiliki amal kebaikan, maka amal keburukan saudaranya akan dilemparkan kepadanya”. Ketiga hadis ini telah dipraktekkan secara tradisi di lingkungan Muslim Indonesia setiap Hari Raya Idul Fitri, dengan saling bersilaturrahim bahkan saling bermaafan sehingga masyarakat dapat menikmati keindahan damai tanpa pertengkaran dan permusuhan.

Diriwayatkan, saat itu, Baginda Nabi keluar rumah untuk melaksanakan sholat Ied, lalu Nabi melihat anak-anak bermain dengan ceria, di sudut pemandangan, Nabi menemukan seorang anak yang termenung sendiri sambil menangis, Nabi mendekatinya dan bertanya dengan lembut “Apakah gerangan yang membuatmu menangis?”, si anak berkata, sedangkan dia belum tau bahwa yang bertanya adalah Nabi “Biarkan aku wahai Tuan, ayahku gugur dalam peperangan bersama Rasulullah, lalu ibuku menikah lagi, lalu dia mengusirku dan memakan hartaku, lalu jadilah aku seperti ini: kelaparan, kekurangan, ketika aku melihat anak-anak itu bermain, aku bertambah sedih”, Lalu Nabi berkata “Maukah kamu bila aku menjadi ayahmu? Dan Aisyah menjadi ibumu? Fatimah sebagai kakakmu? Ali sebagai pamanmu? Hasan-Husain sebagai saudaramu?”, berkata anak kecil itu “Bagaimana mungkin aku tidak mau Ya Rasulullah?”, lalu Nabi mengajak anak kecil itu pulang ke rumah, Nabi memberikan makan, membelikan baju baru untuk berhari raya, si anak ini keluar dengan begitu gembira. Sambil berkata kepada teman-temannya, “Aku telah diangkat menjadi anak oleh Nabi, dan aku dibelikan baju baru untuk berlebaran, sama seperti kalian”

Atas dasar inilah, lalu muncul tradisi jamuan makan saat Hari Raya, ada tradisi membahagiakan anak-anak saat Hari Raya, tradisi itu tidak hanya memberikan jamuan makan tapi juga memberikan angpau dan memakai baju baru di Hari Raya Idul Fitri. Namun, Ibnul Qayyum al-Jauzi memperingatkan kita untuk tidak terlena dengan gebyar Hari Raya, karena “Laisal Ied liman Labisal Jadid, innamal ‘Ied liman taqwahu yazid”, bukanlah berhari raya dengan pakaian baru, sesungguhnya berhari raya itu bagi orang yang ketaatan dan ketaqwaannya bertambah.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Taqabbalallahu Minna wa Minkum, Taqabbal yaa Karim wa Ja’alana Allahu wa iyyakum minal ‘Aidina wal faizina kulla ‘am wa antum bi khairin.