Al-Azhar News
Home | Hikmah | Hikmah; Enam Makhluk yang Tawadlu’

Hikmah; Enam Makhluk yang Tawadlu’

tawadhu

Diceritakan dari Ka’ab al-Akhbar, ia berkata:

“Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam: “Wahai Musa! Apakah kamu mengerti, kenapa Aku memilihmu sebagai ‘kalim’ (orang yang diajak bicara) dengan tanpa perantara?” Nabi Musa menjawab: “Engkau lebih mengerti tentang hal itu, wahai Tuhanku.”

Allah berfirman: “Aku melihat hati para hamba-Ku dan Aku tidak melihat hati yang lebih tawadlu’ daripada hatimu. Oleh karena inilah aku mengajakmu bicara”.

Dan dikatakan, sungguh ada enam sesuatu yang tawadlu’ kepada Allah, kemudian Allah mengangkat derajatnya diantara sesamanya.

Yang pertama: Allah memberi wahyu kepada gunung-gunung: “Aku akan mendamparkan perahu Nabi Nuh ‘alaihissalam dan orang-orang mu’min yang bersamanya di atas salah satu dari kalian”. Gunung-gunung pun menunjukkan kebesaran dan ketinggiannya kecuali gunung al-Judy yang merasa tawadlu’.

Ia berkata: “Dari manakah aku mempunyai kekuatan hingga Allah mendamparkan perahu Nabi Nuh kepadaku”. Kemudian Allah mengangkat derajatnya di atas gunung-gunung yang lain dan mendamparkan perahu Nabi Nuh di atasnya sebab tawadlu’nya. Sebagaimana firman Allah di dalam surat Hud. Al-Judy adalah subuah gunung yang terletak di daerah dekat kota Mushil.

Gunung-gunung yang lain bertanya: “Wahai Tuhanku, kenapa Engkau mengutamakan gunung al-Judy diatas kami, padahal ia adalah gunung yang paling kecil?”

Allah menjawab: “Ia bertawadlu’ kepada-Ku, sedangkan kalian takabbur. Dan wajib bagi-Ku atas orang-orang yang tawadlu’ kepada-Ku untuk Aku angkat derajatnya, dan orang-orang yang takabbur kepada-Ku untuk Aku hinakan derajatnya.”

Yang kedua: Allah memberi wahyu kepada semua gunung: “Sungguh Aku adalah Dzat yang mengajak bicara hamba-Ku di atas salah satu dari kalian semua.” Gunung-gunung pun menyombongkan diri kecuali gunung Thurisaina’. Ia tawadlu’ kepada Allah dan berkata: “Siapakah aku, hingga Allah mengajak bicara hamba-Nya diatasku.” Oleh karena itu, perbincangan di antara Allah dan Nabi Musa ‘alaihissalam berada di atas gunung Thur.

Yang ketiga: Allah memberi wahyu kepada ikan-ikan: “Sungguh Aku adalah Dzat yang memasukkan Nabi Yunus dalam perut salah satu dari kalian.” Ikan-ikan pun menyombongkan diri kecuali satu ikan, ia berkata: “Siapakah aku, hingga Allah menjadikan perutku sebagai tempat Nabi-Nya.” Kemudian Allah mengangkat derajat dan memuliakannya sebab tawadlu’nya.

Yang keempat: Allah memberi wahyu kepada semua hewan yang bisa terbang: “Sungguh Aku adalah Dzat yang menaruh minuman dalam tubuh salah satu dari kalian semua sebagai obat bagi manusia.” Semua hewan takabbur kecuali lebah, ia berkata: “Siapakah aku, hingga Allah mengangkat derajatnya karena tawadlu’nya.”

Yang kelima: Allah memberi wahyu kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam: “Siapa kamu?” “Aku adalah kekesih-Mu,” jawab Nabi Ibrahim.

Allah bertanya kepada Nabi Musa ‘alaihissalam: “Siapa kamu?” “Aku adalah orang yang Engkau ajak bicara, jawab Nabi Musa.

Allah bertanya kepada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam: “Siapa kamu?” “Aku adalah ar-Ruuh”, jawab Nabi ‘Isa.

Allah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW: “Siapa kamu” “Aku adalah anak yatim”, jawab Nabi Muhammad.

Kemudian Allah mengangkat derajat Nabi Muhammad di atas derajat para Nabi yang lain.

Yang keenam ialah: orang mu’min yang tawadlu’ kepada Allah dengan sujud serta meng-Esakan-Nya akan dimuliakan Allah dengan dilapangkan dadanya untuk Islam. Hal tersebut melalui cahaya dari Tuhannya.

Diceritakan dalam suatu hadits: “Ketika Rasulullah SAW keluar dari Makkah hijrah ke Madinah. Setelah beliau memasuki pintu kota Madinah, orang-orang kaya memegang kendali (tali unta) agar mau berhenti di rumah mereka. Kemudian Rasulullah berkata: “Lepaskan tali unta itu karena dia mendapatkan perintah”. Mereka akhirnya melepaskan tali itu. Setelah melewati rumah seorang lelaki yang miskin lagi susah, dimana ia telah berkata: “Seandainya aku mempunyai kekuasaan, niscaya Nabi Muhammad akan menjadi tamuku”. Maka unta itu berhenti di depan rumahnya. Dia adalah Abu Ayyub al-Anshari. Orang-orang kaya menarik-narik kendali unta itu agar mau berdiri dan mau menuju rumah mereka, namun untu itu tetap tidak mau berdiri. Kemudian turunlah Malaikat Jibril ‘alaihissalam dan berkata: “Turunlah engkau di sini, wahai Rasululah! Karena Abu Ayyub adalah orang yang tawadlu’ kepada Allah ketika engkau berada di pintu Madinah, dan mereka (orang-orang kaya) menghiasi rumahnya dan berkata: “Nanti Rasulullah akan turun di rumah kami. Sedangkan Abu Ayyub al-Anshari berkata dalam hatinya: “Aku adalah laki-laki yang faqir, mana mungkin mana mungkin aku punya derajat di sisi Allah sehingga Nabi Muhammad SAW mau bertempat di rumahku”. Karena tawadlu’nya itulah Allah menempatkan Nabi-Nya di rumah Abu Ayyub.”

(Ini adalah satu contoh bahwa siapapun yang bertawadlu’ akan diangkat derajatnya oleh Allah, dan siapapun yang takabbur akan direndahkan derajatnya oleh Allah SWT seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW).[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − two =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.