Al-Azhar News
Home | Kolom Pengasuh | Hafalan Qur’an Kilat

Hafalan Qur’an Kilat

1
kredit gambar: Indonesia Quran Foundation

Oleh: Uswatun Hasanah
(Guru Ngaji PP Al-Azhar)

Tahfidz, program yang menggiurkan, menjamur di tiap lembaga pendidikan, ajang promosi bagi lembaga pendidikan yang ingin orang tuanya memiliki anak-anak generasi tahfidz, menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Ghirah semakin menggebu dengan adanya acara Hafidz Indonesia yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi. Siapa sih yang tidak gemas, kagum dan bangga melihat seorang anak yang berusia belia, masih dalam masa golden age, rerata 5 tahunan sudah bisa melanjutkan ayat-ayat Al-Qur’an (juz 29, 30) dengan fasih dan cengkok meliuk dan irama khas seperti imam Masjidil Haram.

Kini banyak lembaga pendidikan formal dan non formal mulai menawarkan program tahfid. Mulai dari PAUD-TK, SD, SMP hingga SMA. Terutama sekolah islam pasti memiliki program tahfidz sebagai program unggulannya. Selain menawarkan program tahfidz, banyak juga yang menawarkan tahfidz kilat. Banyak promosi-promosi sekolah yang memberikan iming-iming lulus SMA hafal 30 juz, lulus SMP hafal 30 juz, dan ada lagi yang ngeri, bikin bulu kuduk merinding “30 hari hafal 30 juz”. Itu bukan judul bioskop, bro. Tapi program tahfidz, program yang menjanjikan seseorang bisa menghafalkan Quran 30 juz dalam 1 bulan, itu artinya tiap hari hafalan 1 juz. Mari kita logika;

1 juz berisi 10 lembar, perlembar berisi 2 halaman. Total 20 halaman perjuz. Katakanlah si anak yang mengikuti program 30 hari mencari cinta menjadi hafidz ini setoran sehari 5x, setelah subuh setoran 4 halaman, setelah duhur setoran 4 halaman, setelah asar setoran 4 halaman, setelah maghrib setoran 4 halaman, setelah isya’ setoran 4 halaman. Nah pas kan yak, sehari 1 juz. Juz 1 selesai.

Besoknya si anak dihadapkan lagi dengan juz 2 yang simulasi setoran hafalannya kayak juz 1, makan minum bab dan bak bisa dipikir sendiri kapan bisa terlaksana di antara padatnya setoran-setoran itu. Sebenarnya bagus sih ya program itu, bikin anak jadi fokus ke Qur’an terus, udah gak sempet foto selfi cekrak cekrik upload sosmed, ga sempet jalan-jalan, nongkrong di kafe, apalagi nonton film. Semua hal itu buang-buang waktu 😂 Dan simulasi itu berlangsung terus sampai target yang ditetapkan, yaitu 30 hari. Pada hari ke 30 anak sudah sampai ke juz 30. Itu artinya berhasil lah program 30 juz dan anak siap wisuda.

Lalu pada saat wisuda dikenakan tarif yang lumayan fantastis sekitar 4-5 juta, ada yang lebih. Beberapa info dari teman mengatakan kalau mengikuti program 40 hari hafal Al-Qur’an yang dibina langsung Syeikh dari Arab ada mahar sekitar 6 juta, dari 100 orang yang berhasil wisuda sekitar 30 orang. Dan sekumpulan anak yang khatam 30 juz menghafal mengikuti wisuda. Banyak orang tua yang terharu, menyaksikan putra-putrinya di wisuda, dengan gelar hafal Al-Qur’an 30 juz.

Ya Rabb.. Kirain yang instan cuma indomi, ternyata ada juga hafalan instan..

Tapi, apakah seinstan dan semudah itu menjadi seorang penjaga Al-Qur’an? Hafal Al-Qur’an itu apa sih? Hafal Al-Qur’an adalah mampu melafalkan Al-Qur’an dengan lancar tanpa melihat mushaf. Berbicara tentang menghafalkan Al-Qur’an tidak lepas dari proses, bagaimana proses yang lazim digunakan di Pesantren Tahfidz?

Pertama dan yang paling utama adalah, sebelum seorang santri atau anak didik dinyatakan boleh menghafalkan harus ditashih dulu bacaannya apakah sesuai dengan tajwid, makharijul huruf dan fasohah atau sifatul huruf hijaiyah. Pokoknya jangan dulu bikin target hafal Qur’an 30 juz dalam 30 hari atau 3 bulan, gak harus juga bisa qiro’ah dengan lagu bayati hijaz nahawand atau mampu melantunkan Qiro’ah Sab’ah, tidak semuluk itu, sounding anak-anak didik menjadi pembaca al-Qur’an yang adil, adil disini memberikan hak-hak huruf untuk dibaca sesuai dengan namanya, dengan tidak mengurangi porsinya, alif atau hamzah dibaca alif bukan dibaca ‘ain atau sebaliknya, sin dibaca sin bukan syin atau tsa, kho’ dibaca kho’ buka cha’ atau ha’, satu huruf dibaca 1 ketukan, ketika bertemu mad dibaca dengan 2 ketukan, dengan kesesuaian kaidah sebagaimana Qurro’ baik dari Mesir atau Syam atau bacaan dari Sanad yang mutawattir lainnya, lalu melantunkan bacaan Al-Qur’an dengan lancar, tidak membaca dengan tergesa-gesa dan tidak ditumpuk-tumpuk hurufnya, meskipun ada istilah hadr (membaca Qur’an dengan cepat, akan lebih afdol dengan membacanya secara tartil mujawwad). Lidah yang fasih dan makhraj yang tepat adalah karena kebiasaan, terbiasa tadarrus, terbiasa membaca Al-Qur’an, terbiasa berlatih makhraj huruf, bergesernya pelafalan satu huruf ke huruf lain dalam satu kalimat bisa berakibat fatal pada makna dan tafsirnya, “لئن شكرتم” yang aslinya syin pada kalimat شكرتم dibaca sin سكرتم akan bergeser maknanya dari “jika kamu bersyukur” menjadi “jika kamu mabuk”, inilah yang dulu guru kami K.H. Syaifuddin al-Hafidz, pakar Qiro’ah Sab’ah mengatakan bahwa ghorib bukan untuk ayat-ayat tertentu saja dalam Qur’an, tapi ghorib untuk seluruh ayat Al-Qur’an. “Jangan mewariskan bacaan Qur’an yang salah” dawuh Simbah KH. Dachlan Salim Zarkasyi.

Kedua, proses yang wajib dijalani adalah hafalan hingga mutqin (hafalan yang susah dilupakan), caranya adalah menyetorkan hafalan ke guru dengan talaqqi (face to face). Hafalan yang disetorkan ini memiliki batas maksimum yang sekiranya ketika menambah hafalan, hafalan sebelumnya tidak hilang, misalkan setoran halaman 1, maka pada hafalan selanjutnya yakni halaman 2 tidak membuat santri melupakan hafalannya pada halaman 1, di pesantren tahfidz biasanya sehari wajib setor 1 halaman. Maka akan menjadi membingungkan kalau sehari setor 1 juz, muraja’ahnya sebelah mana?

Ketiga, adalah yang tersulit yaitu mempertahankan hafalan yang telah disetorkan, sesungguhnya yang berat itu bukan rindu saat menghafalkan, tetapi menjaga hafalan, pada saat muraja’ah atau mengulang hafalan sebelumnya. Satu juz ada 20 halaman, maka seharusnya seseorang bisa menghafal 1 juz dalam 1 bulan. Lalu ada ujian perjuz hingga perlima juz hingga khatam, santri yang masih belum lancar melantunkan 1 juz Al-Qur’an bil ghoib (tanpa melihat nushaf) tidak akan diperolehkan melanjutkan hafalan selanjutnya, inilah nanti yang membedakan tingkat kecerdasan seseorang dalam menghafal, tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa menghafal Al-Qur’an tidak cukup dengan kecerdasan dan nafsu cepat khatam, tapi himmah yang tinggi dalam memelihara kalam Allah, sehingga hafalan yang dikatakan mutqin adalah hafalan yang lafdzan (hafal secara teks), terlebih hafalan yang ma’nan (mengetahui maksud teks) dan ‘amalan (mengaplikasikan pesan-pesan moral dan hukum yang ada dalam Al-Qur’an).

Ketiga proses tersebut harus benar-benar dijalankan jika ingin mendapatkan hafalan yang mutqin.

Syarat menghafalkan Al-Qur’an itu ada 3, pertama niat melestarikan kalam Allah, kedua manajemen waktu dan ketiga istiqomah. Di luar pembahasan di atas, Allah memberikan anugrah tertentu kepada beberapa orang yang dikehendakiNya untuk hafal dengan cepat, ada yang 8 bulan, ada yang 2 bulan, tetapi hafalan Al-Qur’an mereka benar-benar hafalan yang lancar, bukan hafal karena mengikuti metode hafalan kilat, mereka adalah orang-orang khusus pilihan Allah.

Wallahu a’lam bissowab
Mojokerto, 14 Februari 2018

Lihat Juga

Rahasia di balik ayat “Laqod Jaa”

Oleh: Uswatun Hasanah (Guru Ngaji di PP Al-Azhar) Syibli yang terkenal Majnun di Baghdad, suatu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 + seven =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.