Al-Azhar News
Home | Artikel | Ketahanan Lembaga Sekolah

Ketahanan Lembaga Sekolah

irmanovita
Irma Novita

Oleh : Irma Novita, S.Pd
(Guru SD Islam Plus Al-Azhar)

Ada sejumlah asumsi optimistik yang kini mulai dibaca. Menurut data Badan Pusat Statistik 2014, jumlah anak kelompok usia 0-9 tahun sebanyak 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Kelak pada 2045, mereka yang usia 0-9 tahun akan berusia 35-45 tahun, sedangkan yang usia 10-20 tahun berusia 45-54. Pada usia-usia itu mereka akan memegang peran di Indonesia tercinta. Mereka diharapkan akan menjadi generasi yang cerdas, produktif, inovatif, damai dalam interaksi sosialnya, sehat dan menyehatkan dalam interaksi alamnya, dan berperadaban unggul. Mereka akan menjadi generasi emas yang sekaligus juga menjadi pemimpin bangsa.

Dengan menghitung potensi kuantitas manusia Indonesia yang ada di posisi ke-4 dalam daftar negara dengan populasi tertinggi dan sisa potensi kekayaan alamnya, lembaga survey international Goldman Sach memprediksi Indonesia akan berada dalam 10 besar negara dengan ekonomi termaju di tahun 2050 bersama China, India dan masih di atas Jepang maupun Korea Selatan. Suatu posisi yang optimistik, yang tentu saja mungkin tercapai bila Indonesia memiliki pemimpin berkualitas dan sumber daya manusia yang secara kuantitatif besar sekaligus berkualitas. Sebaliknya pendidikan dikatakan gagal apabila tidak mampu membangun karakter peserta didiknya. Kecerdasan akan menjadi “bencana” apabila tidak diikuti karakter kejujuran dan integritas yang kuat. Memang pendidikan harus dilihat dalam konteks luas, mencakup pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat dan pendidikan formal melalui sekolah. Untuk itu, momentum yang sangat strategis ini harus kita manfaatkan dengan baik dengan menyiapkan generasi menuju 2045, yaitu pada saat 100 tahun Indonesia merdeka. Dalam hal ini lembaga sekolah merupakan salah satu pengemban tugas untuk mempersiapkan calon pemimpin bangsa tersebut .

Frasa “ketahanan lembaga sekolah” menjadi penting untuk diuraikan karena menyangkut persoalan mendasar, yakni kekuatan lembaga pendidikan sekolah. Ketahanan dapat terwujud jika kita punya kekuatan untuk mengatasi berbagai masalah-masalah dalam lembaga pendidikan kita. Ketahanan sekolah adalah suatu kodisi dinamik yang berisi kemampuan dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang timbul dari dalam dan luar sekolah, langsung atau tidak langsung mengganggu proses kegiatan belajar mengajar dalam rangka membangun bangsa yang maju dan berkarakter.

 Pilar strategi kekuatan lembaga.

Untuk mencapai ketahanan sekolah yang kuat diperlukan strategi penguatan internal dan eksternal. Jika sebuah lembaga pendidikan hanya menggarap salah satu saja strategi penguatan lembaga tersebut maka 2 pilar penopang tersebut akan rapuh. Strategi penguatan internal yaitu suatu upaya untuk memperkuat lembaga pendidikan dengan cara mengoptimalisasi segala sumber daya sekolah. Ada beberapa bidang garapan yaitu:

  1. Sumber Daya Manusia (SDM)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia manajemen artinya penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien. Dari definisi etimologis tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya pendidikan adalah manajemen atau pengelolaan yang dilakukan oleh pengelola pendidikan terhadap semua faktor yang dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan proses pendidikan dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Tujuan manajemen sumber daya manusia ini adalah produktivitas, kualitas, efektivitas serta efisiensi dalam lembaga pendidikan.

Sumber daya manusia dalam lembaga sekolah meliputi unsur kepala sekolah, guru, karyawan sekolah, siswa dan orang tua siswa. Semuanya harus dapat bekerjasama secara sinergis dan senantiasa meningkatkan profesionalisme dalam menjalankan peran dan tugas yang diembankan. Sumber daya manusia sangat menentukan ketahanan sebuah lembaga pendidikan. Sumber daya ini berkaitan dengan kualitas intelektual, keimanan dan ketaqwaan, kepribadian, dan tingkah laku serta keterampilan motorik manusianya. Pola pendidikan yang berlaku dalam keluarga akan mewarnai kepribadian anak. Pendidikan dalam keluarga semata belumlah cukup, oleh sebab itu jalur pendidikan di sekolah sangat dibutuhkan untuk perkembangan anak berikutnya. Begitu seterusnya sampai anak menyelesaikan proses pendidikan dan hidup mandiri.

Wajar kalau banyak orang mengatakan, perlu ada sinergisitas antara jalur pendidikan keluarga dengan pendidikan sekolah. Pendidikan di lingkungan keluarga lebih menekankan pada (ranah) matra kepribadian, sementara ranah lainnya diserahkan pada jalur pendidikan sekolah. Sinergi kedua jalur ini akan melahirkan anak yang beriman dan bertaqwa, memiliki kepribadian yang baik, mempunyai ilmu pengetahuan serta kecakapan hidup. Suatu saat anak-anak akan hidup mandiri ketika terjun ke tengah masyarakat.

Bentuk menjalin sinergi antara sekolah dengan wali murid salah satunya dengan melakukan 3 Way Conference. 3 Way Conference dikenal dengan istilah konferensi segitiga yaitu pertemuan antara siswa, orang tua, dan guru, untuk membahas tujuan mereka bersekolah selama setahun ke depan. Dengan disaksikan oleh orang tua dan guru, setiap anak menganalisis kelebihan dan kekurangannya pada lembar kertas Personal Goals. Mereka pun harus mengidentifikasi strategi-strategi apa yang akan digunakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan oleh mereka sendiri. Misalnya, jika mereka merasa kekurangannya adalah berkomunikasi dalam bahasa Inggris, maka kekurangan ini digunakan sebagai tujuan. Lalu untuk meraih tujuan tersebut, mereka juga memikirkan cara-caranya, misalnya dengan membaca 2 halaman buku cerita berbahasa Inggris setiap hari dan menceritakan lagi isinya kepada orangtua. Karena orangtua hadir dalam konferensi, maka orangtua juga harus punya komitmen mendukung anaknya dengan cara menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita. Semua strategi harus dapat diaplikasikan dan diukur pencapaiannya. Untuk itu orangtua harus berusaha menepati janji untuk membantu anaknya. Dalam proses satu tahun ke depan, guru akan memantau perkembangan siswa apakah tujuan-tujuan tersebut sudah dilaksanakan atau belum.

  1. Sarana dan Prasarana.

Sarana pendidikan mencakup semua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang dalam proses pendidikan seperti gedung, ruang kelas, alat, media, meja, kursi dan sebagainya. Adapun yang disebut dengan prasarana pendidikan adalah fasilitas yang secara tidak secara langsung menunjang jalannya proses pendidikan seperti halaman sekolah, kebun sekolah, taman sekolah, jalan dan lain-lain. Pengelolaan sarana prasarana dapat diartikan sebagai kegiatan menata, merencanakan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran, pendayagunaan, pemeliharaan, peng-inventarisasi-an dan penghapusan serta penataan secara tepat guna dan tepat sasaran. Secara umum pengelolaan sarana prasarana meliputi 5 hal, yakni : (1) penentuan kebutuhan, (2) proses pengadaan, (3) pemakaian, (4) pencatatan, dan (5) pertanggung jawaban.

Sarana dan prasarana yang baik dan berkualitas akan ikut memperkuat ketahanan lembaga pendidikan sebab akan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman sehingga baik siswa maupun tenaga pendidik akan betah untuk belajar dan mengajar.

 Strategi Penguatan Eksternal.

Penguatan eksternal merupakan strategi untuk menunjukkan kepada masyarakat luas tentang eksistensi dari sebuah lembaga Pendidikan. Ketahanan dapat terwujud jika kita punya kekuatan untuk mengatasi berbagai masalah- masalah dalam lembaga pendidikan kita. Ketahanan sekolah adalah suatu kodisi dinamik yang berisi kemampuan dan ketangguhan dalam menghadapi tantangan dan hambatan yang timbul dari dalam dan luar sekolah. Eksistensi dari sebuah lembaga Pendidikan dapat diwujudkan dari mutu lulusan, prestasi dari siswa-siswinya maupun gurunya dan juga program lembaga yang ditawarkan pada stick holder (konsumen) lembaga tersebut. Jika suatu lembaga Pendidikan dapat menjaga mutu kualitas lulusannya dan memberikan informasi secara benar dan baik pada seluruh konsumennya maka lembaga tersebut dapat berkembang dengan kuat dan mendapat kepercayaan dari masyarakat. Inti dari penguatan eksternal adalah untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat luas bahwa lembaga tersebut adalah lembaga yang kredibel dan amanah dalam segala aspek pendidikan. Lembaga pendidikan yang kredibel secara eksternal akan memiliki ketahanan yang kuat dalam menghadapi terpaan badai masalah.

Pada akhirnya sebuah lembaga pendidikan dibangun dengan tujuan mulia yaitu untuk mencetak dan membekali anak-anak bangsa dengan ilmu yang manfaat agar dapat hidup secara mandiri dan bermartabat. Sinergi antara komponen pendidikan yaitu pimpinan lembaga, guru tenaga kependidikan, siswa, orang tua siswa dan masyarakat sekitar perlu diperkuat agar ketahanan lembaga pendidikan dalam mengarungi badai masalah dari luar maupun dalam dengan tangguh dan selamat.[]

Lihat Juga

Hari Santri Nasional (HSN) – 22 Oktober

Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober – Hari Sabtu, 22 Oktober 2016 diperingati sebagai Hari ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − four =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.