Al-Azhar News
Home | Artikel | Membangun Learning Community Menuju Sekolah Berprestasi

Membangun Learning Community Menuju Sekolah Berprestasi

M. Junaidi

Oleh : Muhammad Junaidi, S.Pd.Gr.
(Guru SD Islam Plus Al-Azhar)

Learning Community merupakan suatu komunitas belajar di lingkungan sekolah yang didalamnya berlangsung proses pembelajaran antara siswa-siswa, guru-siswa, guru-guru, guru-kepala sekolah, sekolah-masyarakat.  Meskipun definisi ini mudah diucapkan dan dihafalkan, tetapiuntuk mengimplementasikannya diperlukan pemahaman dan pengahayatan yang mendalam, bahkan memerlukan reformasi pandangan guru.

Selama ini berlaku pandangan bahwa tugas guru mengajardan mendidik, sedangkan tugas siswa adalah belajar. Di berbagai kesempatan kepala sekolah atau guru senantiasa memberi nasehat kepada siswanya bahwa siswa harus belajar. Tugas siswa belajar dan belajar agar diperoleh prestasi tinggi dan lulus ujian. Jika siswa berprestasi dalam ujian maka prestasi sekolah akan meningkat. Hal tersebut erat kaitannya dengan dengan prestige sekolah, maka hampir semua kepala sekolah dan pejabat (Diknas, Gubernur, Bupati) berupaya keras agar semua siswa lulus ujian dan berprestasi dalam ujian nasional. Sekolah yang persentase kelulusannya tinggi dan rangking nilainya tinggi menjadi sekolah berprestasi. Sebaliknya jika persentase kelulusannya rendah atau rangking nilainya rendah merupakan sekolah yang tidak berprestasi.

Yang menjadi masalah justru bagaimana meraih prestasi tersebut. Pada umumnya keluar anjuran atau petunjuk “dari atas” bahwa agar prestasi sekolah dapat ditingkatkan maka siswa harus di drill, diadakah jam tambahan atau les, atau siswa disuruh melakukan latihan menyelesaikan soal-soal. Kenyataan menunjukkan bahwa dengan drill atau les singkat, prestasi siswa dalam ujian nasional  dapat ditingkatkan dan mutu sekolah juga dapat ditingkatkan.

 Pertanyaannya adalah: apakah model “drill”, les, mengerjakan soal-soal itu merupakan gambaran siswa belajar? Apakah “keterampilan” dan “kehebatan” siswa dalam mengerjakan soal-soal ujian dapat diterapkan dalam mengatasi permasalahannya? Apakah model drill dalam waktu singkat telah dapat memberi bekal kepada siswa untuk memecahkan permasalahan kehidupannya secara ilmiah?

 Dari gambaran tersebut mari kita kembali lagi pada sasaran belajar untuk siswa di sekolah.

Sasaran belajar meliputi 3 ranah yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Kognitif (hafalan, pemahaman) mungkin dapat dicapai dalam waktu singkat. Siswa belajar semalam suntuk untuk mengikuti tes dapat memperoleh nilai yang tinggi. Namun perolehan belajar dalam aspek kognitif tersebut tidak bertahan lamadancenderungsiswa akan mudah melupakannya.

Psikomotor atau keterampilan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat. Semakin banyak jam terbang seseorang, keterampilannya semakin baik dan orang tersebut menjadi lebih profesional. Keterampilan siswa yang perlu dilatih adalah menggambar, membuat tabel, grafik, menggunakan alat, merancang kegiatan, menyusun masalah, hipotesis, melakukan eksperimen, mentabulasi data, menganalisis data, hingga ke terampil membuat laporan dan mengkomunikasikannya (ini semua merupakan tuntutan baik dalam kurikulum KTSP maupun kurikulum 2013).

Afektif atau sikap merupakan suatu pendapat sebelum bertindak, setuju tidaknya siswa terhadap suatu fenomena, atau aturan, menjunjung tinggi kedisiplinan, tenggang rasa, mau menerima saran, bersikap objektif, menjaga kebersihan, dsb. Sikap tidak dapat dibentuk seketika. Proses pembentukan sikap memerlukan waktu, karena diperlukan adanya internalisasi dan proses psikologis seseorang. Orang yang paham dan terampil seringkali dibarengi dengan pembentukan dan perubahan sikap yang positif.

 Sebagai contoh: Setiap siswa akan dapat mendefinisikan apa itu disiplin (kognitif). Dia mungkin dapat bertindak disiplin misal diajak tepat waktu untuk mengikuti kegiatanekstrakurikuler (psikomotor).  Tetapi apakah dia selalu bersikap disiplin dalam setiap tingkah lakunya? Jelaslah bahwa mengubah sikap memerlukan waktu, kemampuan dan kemauan seseorang. Pembiasaan, latihan berulangkali, penguatan (reinforcement) sangat diperlukan. Apakah penerapan hukum (mernjatuhkan sanksi) diperlukan di sekolah agar sikap dapat ditanamkan?

Permasalahan Pembelajaran Kita

Di sekolah-sekolah umum khususnya di Indonesia (yaitu di sekolah yang belum melakukan reformasi) terdapat fenomena-fenomena sebagai berikut:

  1. Guru mendominasi kelas;
  2. Metode yang sering digunakan adalah metode ceramah;
  3. Guru ada yang bekerja di tempat lain di luar bidang pendidikan;
  4. Hubungan guru dengan guru lain sebatas hubungan kedinasan;
  5. Guru menginginkan agar siswa berprestasi dengan jalan melakukan kompetisi dan karenanya guru selalu menuntut siswa supaya belajar lebih baik;

Di samping itu, beberapa permasalahan yang sering dilontarkan adalah sebagai berikut:

  1. Kurikulum terlalu luas, kurang dalam
  2. Hasil penataran sulit/tidak diterapkan di sekolah
  3. Metode pembelajaran kebanyakan masih ceramah
  4. Kekurangan waktu karena materi terlalu banyak
  5. Kuantitas dan kualitas guru kurang
  6. Media belajar, sumber belajar kurang
  7. Evaluasi masih kognitif
  8. Hasil belajar siswa rendah
  9. Guru disibukkan oleh urusan non akademik
  10. Sekolah tidak memiliki lab/bahan/ media yang cukup
  11. Mutu masukan/siswa rendah
  12. Administrasi belum rapi
  13. Manajemen sekolah/kelas kurang

 Lalu bagaimanakah kita bisa mengatasi permasalahan di sekolah?.

Berangkat dari permasalahan tersebut, marilah kita bangun Learning Community di sekolah kita.  Ada 4 (empat) slogan yang perlu diterapkan di sekolah yaitu:

  1. Menjamin hak semua untuk belajar.
  2. Kepala sekolah, Guru dan staf saling solid dan mendukung untuk berkembang dan “tidak ada perbedaan”.
  3. Terbentuknya team work yang berkomitmen tinggi guna memujudkan Manajemen berbasis sekolah (MBS) yang sehat dan
  4. Masyarakat dan orang tua bersama-sama belajar mengatasi permasalahan sekolah.

 Bagaimana Cara Menumbuhkan Komunitas Belajar di sekolah kita ?

Karena keterbatasan waktu,  tidak semua permasalahan tersebut dibahas alternatif pemecahannya. Beberapa kegiatan berikut merupakan contoh upaya memecahkan permasalahan dalam rangka menumbuhkan komunitas belajar di sekolah, misalnya:

  1. Pengadaan Sumber Belajar dan Media Belajar

Ceramah dapat dikurangi apabila tersedia sumber belajar (buku teks, kliping, radio, TV, CD, internet) dan media pembelajaran yang cukup. Sebaiknya buku teks tidak hanya satu (sesuai tuntutan Kurikulum, lebih dari satu). Sekolah dapat mengadakan buku kepustakaan dengan:  a.  Meminta siswa yang lulus menyumbangkan buku bekasnya;  b.  Meminta sumbangan alumni; Untuk menambah koleksi bacaan di perpustakaan, guru dimotivasi untuk menugaskan siswa mengumpulkan kliping. Kliping yang terkumpul dibendel, dimasukkan ke perpustakaan sekolah. Pada waktu proses pembelajaran, kliping digunakan sebagai sumber belajar. Dengan demikian pembuatan kliping berfungsi, bukan untuk pajangan belaka.

Guru juga dapat menugaskan siswa untuk membuat gambar, grafik, skema, tabel, dsb.  Gambar untuk matapelajaran biologi, fisika sangat penting untuk media belajar (matapelajaran lain juga penting)

  1. Mengurangi Ceramah

Kurangi sebanyak mungkin ceramah. Apa yang sudah tercantum di buku tidak perlu diceramahkan. Suruh siswa belajar sendiri dari buku, radio, TV, CD, internet.  Mungkin ada beberapa konsep penting yang perlu diceramahkan.

Gunakan metode bervariasi misalnya diskusi, tugas, eksperimen. Diskusi akan berjalan apabila: ada masalah yang dimunculkan (masalah dari guru atau siswa), ada sumber belajar (buku, kliping) dan guru yang mengamati dan mengevaluasi.  Guru menyediakan lembar observasi untuk menilai siswa (evaluasi psikomotorik).

  1. Diskusi

Selain masalah diskusi dan sumber belajar, pengelolaan kelas selama diskusi memegang kunci penting agar proses diskusi mendukung terciptanya komunitas belajar. Secara alami, di kelas siswa dapat dikategorikan sebagai siswa kelompok A (menguasai), B (sedang) dan C (kurang menguasai).  Juga ada siswa laki-laki dan perempuan. Selain itu mungkin ada kategori lain misal berdasar suku (Jawa, Madura, Non Pri) atau agama.  Agar proses belajar berlangsung multi arah, pembentukan kelompok hendaknya:  1) maksimal terdiri dari 4 orang; 2) heterogen ditinjau dari kemampuan, jenis kelamin, suku dsb).

Proses diskusi diarahkan agar terjadi proses saling belajar antar siswa. Guru berkeliling, dan jika terdapat siswa atau kelompok yang tidak dapat memecahkan permasalahan maka guru berupaya memotivasi siswa tersebut agar mau bertanya kepada siswa atau kelompok yang mampu.  Jadi siswa C dimotivasi agar bertanya ke siswa A. Dengan demikian terjadi proses belajar membelajarkan antar siswa sehingga siswa C meningkat pemahamannya dan A juga akan lebih memahami dan terampil menyampaikan informasi kepada temannya dan daya ingatnya akan lebih lama. Selanjutnya setiap siswa hendaknya memiliki hasil diskusi. Kolaborasi tidak berarti siswa yang kurang mampu ”mengikut” siswa yang mampu. Hasil diskusi hendaknya dimiliki oleh setiap siswa. Karena itu pada akhir diskusi, guru tidak menunjuk kelompok untuk mempresentasikan, melainkan menunjuk individu siswa. Pertanyaan-pertanyaan guru kepada kelas/semua siswa hendaknya dihindari dan mengutamakan pertanyaan untuk setiap individu siswa.

  1. Tugas

Berbagai tugas dapat diberikan kepada siswa misalnya: membuat grafik pertumbuhan penduduk dengan meminta data ke RT/Kelurahan (Geografi),  membuat buku neraca dari sebuah warung/toko (Ekonomi),  essai tentang Sejarah berdirinya Mojokerto (Sejarah),  mekanisme bel listrik (fisika),  pengamatan laba-laba membuat sarang (Bio),  mendata kandungan bahan kimia tambahan pada makanan (Kimia),  berlatih musyawarah mufakat (PPKN),  mengukur tinggi pohon dengan rumus (Matematika),  membuat naskah pidato (bahasa Indonesia),  mendengarkan radio Australia (Inggris), mengukur perbandingan kapasitas paru-paru orang yang gemar oleh raga dan tidak (Olah raga). Banyak tugas mengiringi materi pelajaran yang dapat diberikan kepada para siswa.

Tugas-tugas yang diberikan itu harus diminta laporannya. Setiap siswa hendaknya membuat laporan. Laporan terbaik dipajang di kelas, dimasukkan ke majalah dinding, atau diseminarkan.

Adakan seminar siswa antar kelas atau di sekolah dalam rangka HUT Kemerdekaan, Maulud Nabi, Hari Kartini, Kenaikan kelas dst

Tugas-tugas siswa yang baik disimpan, diadakan pameran. Siswa yang berprestasi akan bangga dan memicu siswa lain untuk ikut berprestasi.

  1. Kegiatan Ilmiah

Di dalam Kurikulum tercantum kompetensi ”siswa mampu berkomunikasi secara ilmiah”.  Yang dimaksud dengan berkomunikasi secara ilmiah adalah berkomunikasi secara tertulis dan atau lisan.  Kegiatan ilmiah ini harus dibudayakan di sekolah misalnya dengan:

  • Melakukan seminar antar kelas/di sekolah, seminar antar sekolah, seminar tingkat Kabupaten.
  • Mengadakan lomba karya ilmiah tingkat sekolah/wilayah/Kabupaten

 Hasil Kegiatan Siswa Merupakan Sumber Belajar Guru dan Sekolah

Karya-karya siswa misalnya makalah, laporan penelitian, kliping, gambar dapat digunakan guru untuk meningkatkan  pemahaman guru tentang materi dan media pembelajaran yang menggunakan pendekatan salingtemas (sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat).  Karya dan laporan siswa tentang lingkungan dapat diangkat guru menjadi karya ilmiah. Biasanya guru kesulitan membuat karya ilmiah. Jika karya siswa dimanfaatkan maka guru tidak akan kehabisan bahan untuk berkarya. Ini dapat digunakan untuk kenaikan pangkat dan atau meningkatkan kepekaan ilmiah guru.

Hasil-hasil kegiatan ilmiah siswa dapat dipajang di ruang kepala sekolah, di ruang guru, di ruang kelas. Ini semua akan membanggakan siswa dan memacu siswa untuk belajar dan maju. Siswa akan merasa dihargai dan mereka akan semakin bersemangat untuk berprestasi.

Sekolah dapat memamerkan hasil karya siswa kepada setiap tamu yang datang. Karya-karya siswa yang dipajang akan membanggakan orang tua dan masyarakat. Masyarakat akan memandang sekolah sebagai sekolah yang berprestasi.

Hal paling penting yang harus diupayakan adalah kemauan guru untuk berubah, bahwa proses belajar harus dimulai dari guru agar dapat mengajar lebih profesional. Jadi kata kuncinya adalah belajar, bukan mengajar.  Jika guru telah menyadari pentingnya belajar, maka mereka akan siap membuka pembelajarannya melalui Lesson Study .

Uraian di atas hanyalah sekedar contoh teknik menumbuhkan komunitas belajar di sekolah. Harapan saya, sekolah akan dapat mengembangkannya sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah.Selain itu, uraian ini belum memuat semua permasalahan dan jawaban secara keseluruhan sebagaimana diuraikan di atas. Permasalahan seperti ”tes yang terlalu berorientasi ke kognitif” serta ”evaluasi berbasis kelas” sebagaimana tuntutan Kurikulum akan disajikan pada masa yang akan datang.[]

Lihat Juga

Hari Santri Nasional (HSN) – 22 Oktober

Sejarah Hari Santri Nasional 22 Oktober – Hari Sabtu, 22 Oktober 2016 diperingati sebagai Hari ...

4 Komentar

  1. Guru memang memiliki peran sentral dalam proses belajar mengajar. Hal ini selayaknya mulai diubah sehingga bukan hanya guru yang dominan tetapi murid juga diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
    jangan sampai di sekolah masih ada sebutan ” Guru Killer”
    Salam hangat dari Jombang

  2. Semangat!
    Perubahan dengan pembuatan E-learning dapat memberikan ruang yang sedikit lebih leluasa dalam belajar di era digital ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six + 19 =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.