Al-Azhar News
Home | Kolom Pengasuh | Menghadirkan Nabi di Sanubari

Menghadirkan Nabi di Sanubari

Oleh: KH. Ma’shum Maulani

(Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar)

Kita sering menyebut namanya, kita sering memanggilnya, ketika dalam doa, dalam sholawat, juga dalam sholat. Namun, pernahkah kita merasakan bagaimana didatangi Nabi? Terkadang kita mengucapkan salam kepada Nabi baik saat sholat ataupun diluar sholat dengan begitu ringan, tanpa penghayatan ataupun seperti angin lalu, bersholawat seperti merokok, sekedar dihisap lalu disemburkan. Padahal, ketika ummat menyebut nama Baginda Muhammad, Allah mengembalikan ruh Nabi dan mendatangi ummatnya lalu menjawab salam ummatnya dalam keadaan nyata, bukan hanya ruhnya? Itulah mengapa penyebutan kepada Nabi menggunakan dlomir mukhotob berupa “ka” yang artinya engkau dan yang disebut hadir di depan kita. Assalamu ‘alaika Yaa Rasulullah Assalamu ‘alaika Yaa Habiiballah, bahkan saat sholat bacaan tahiyat “Assalamu ‘alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh”, saat kita mengucapkan salam itu Nabi Muhammad ada di depan kita. Bisa dibayangkan setiap detik betapa banyak orang yang bershalawat dan menyampaikan salam kepada beliau baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Itu artinya beliau SAW tidak pernah meninggalkan umatnya. Beliau selalu hadir membimbing kita, ingatkah bagaimana berdukanya Nabi saat beliau ditunggu Malaikat Izrail menghadap Allah? Beliau tidak berduka karna akan meninggalkan keluarganya, hartanya, tetapi yang terucap di bibir Nabi hanyalah “ummatii, ummatii, ummatii”, betapa beratnya beliau kepada ummatnya, betapa kasih dan sayang beliau sepanjang zaman.

Lalu bagaimanakah dengan hati kita? Apakah kita benar-benar siap menghadirkan Nabi di sanubari? Terutama di bulan Maulid ini, banyak sekali yang merayakan Maulid Nabi, di majelis, di masjid, di rumah-rumah, mereka berlomba-lomba dalam kebaikan serta bersuka cita merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Mari menghadirkan sosok Nabi Muhammad, beliau adalah insan kamil, manusia yang sempurna, kelahirannya adalah alasan terciptanya seluruh dunia ini dan isinya.

Nabi Muhammad adalah seorang yang Agung lagi di Agungkan, wajahnya bersinar seperti Bulan Purnama. Rambutnya berombak, berhidung mancung seperti huruf alif, berjenggot lebat, pipinya datar, mulutnya lebar, giginya indah, putih, dan bersih, giginya renggang ketika berbicara tampak seperti cahaya keluar dari sela-sela gigi-giginya. Bulu dadanya halus, tengkuknya seakan-akan leher yang terbuat dari perak murni dan perawakannya sedang.

Nabi Muhammad memiliki lingkar badan berukuran sedang, tubuhnya padat, antara perut dan dadanya rata. Telapak tangannya lebar, telapak tangan dan kakinya tebal, jari-jarinya panjang, telapak kakinya rata, halus kedua kakinya sehingga air tidak menempel padanya. Ketika berjalan Baginda Nabi mengangkat kedua kakinya dengan kuat. Beliau melangkah dengan sangat cepat dan berjalan dengan rendah hati. Ketika dipanggil beliau tidak hanya menoleh, tapi menghadapkan seluruh badannya pada yang memanggilnya, ketika berbicara dengan lawan bicaranya selalu tampak memperhatikan dengan seksama, tidak memotong pembicaraan dan ketika giliran beliau berbicara, beliau sangat tawaddlu’. Nabi merendahkan pandangannya, memandang bumi lebih sering ketimbang memandang langit. Pandangannya lebih sering untuk memperhatikan. Nabi sering meminta sahabatnya berjalan di depannya, dan mendahului mengucapkan salam kepada siapa saja yang dijumpainya. Nabi tidak pernah berjalan mendahului orang. Ketika bersama tiga orang, maka Nabi di antara mereka. Dan ketika bersama kelompok orang Nabi mendahulukan mereka berjalan.

Nabi Muhammad adalah Cahaya. Sehingga ketika berjalan di bawah sinar matahari dan rembulan tidak tampak bayangan Nabi.Wajah Nabi berbentuk bulat, wajahnya seperti Matahari dan Rembulan. Sesungguhnya seindah-indah angan adalah menghadirkan Nabi di sanubari. Momen perayaan kelahiran Nabi Agung ini marilah kita manfaatkan untuk lebih khusyu’ lagi dalam bersholawat kepada Nabi, dahulukan adab kepada Nabi, terutama ketika mahallul qiyam, karena momen terindah maulid adalah saat mahallul qiyam, seluruh jamaah berdiri, memusatkan hati sepenuhnya dengan berusaha merasakan kehadiran Junjungan dalam jiwa. Pada saat mahallul qiyam inilah Nabi Muhammad hadir memenuhi panggilan kita, sambutlah, sambutlah dengan suka cita, Ya Rasulallaaaah, khudz biyadii.. Wahai Rasulullah, raihlah tanganku, tangan yang mengharap ridlo dan syafaatmu.

 

*tulisan ini dimuat di halaman depan Radar Mojokerto, terbit 1 Desember 2017

Lihat Juga

Rahasia di balik ayat “Laqod Jaa”

Oleh: Uswatun Hasanah (Guru Ngaji di PP Al-Azhar) Syibli yang terkenal Majnun di Baghdad, suatu ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve + seventeen =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.