Al-Azhar News
Home | Kolom Pengasuh | Mensyukuri Nikmat dalam Berumah Tangga

Mensyukuri Nikmat dalam Berumah Tangga

Oleh: KH. Ma'shum Maulani (Pengasuh Ponpes Al-Azhar)

Oleh: KH. Ma’shum Maulani
(Pengasuh Ponpes Al-Azhar)

Syukur adalah bagian dari iman, sebagaimana sabda Nabi “Iman ada pada 2 hal: sebagian ada pada syukur, sebagiannya lagi ada pada sabar”, tidak dinyatakan beriman seseorang jika menanggalkan salah satu dari 2 hal tersebut. Bersyukur pada hal-hal yang sederhana, seperti syukur panca indra: mata bisa melihat dengan jelas, bisa berkedip dan memejamkannya dengan nikmat saat tidur, kulit yang tertutup sempurna membungkus tulang dan daging, diberikan warna ada yang kuning langsat, putih, hitam dan ada yang eksotis, sehingga dengan permukaan kulit kita bisa merasakan benda-benda yang kita sentuh, lidah dan bibir yang sehat untuk merasakan makanan dan berbicara, tangan dan kaki bisa digerakkan melalui sendi-sendinya tanpa perlu dikasih oli, sudah ada pelumas made in Gusti Allah, bagaimana cara mensyukurinya? Dengan mengucapkan “Alhamdulillah”, Segala Puji bagi Allah, Alhamdulillah ini harus menjadi wirid keseharian, bangun tidur alhamdulillah, bisa makan alhamdulillah, bisa jalan-jalan dan beraktivitas juga alhamdulillah. Syukur saja belum cukup untuk menyempurnakan iman. Ada kesabaran yang harus ditempuh ketika diberikan ujian oleh Allah.

Kalau filosofi orang Jawa ada istilah blai slamet, blai artinya musibah, slamet artinya selamat, kalau digabungkan jadi musibah yang selamat, dapat musibah tapi kok selamat? Kecelakaan kaki kanannya patah masih mengucapkan alhamdulillah cuma kaki kanan yang patah kaki kiri tidak patah, kecelakaan dua kakinya patah masih alhamdulillah karna tangannya masih bisa difungsikan, kecelakaan yang melumpuhkan seluruh alat gerak pun masih mengucapkan alhamdulillah karena masih diberikan Allah kehidupan, lalu untuk menyempurnakan kesabarannya tersebut mereka masih bisa beraktifitas karena masih ada anggota tubuh lain yang bisa diberdayakan. Banyak orang yang lulus pada ujian sabar, tapi sedikit yang lulus pada ujian syukur ( Qoliilan maa tasykuruun ). Pada saat kekurangan banyak orang yang sabar, tetapi ketika dilimpahi banyak harta justru lupa bersyukur, lupa berinfaq, lupa bersedekah. Pada saat kehilangan suami atau istri banyak pasangan yang bersabar, tapi pada saat bersama suami atau bersama istri kita malah lupa bersyukur. Cenderung mengeluh tentang kekurangan pasangan daripada bersyukur karena diberikan pasangan.

Bersyukur karena memiliki pasangan ini juga harus kita jadikan wirid setiap harinya, ada beberapa orang yang masih belum punya pasangan dan ada yang memilih untuk menduda atau menjanda lama tidak menikah lagi, mereka berjuang sendiri dalam menjalani hidup. Suami atau istri seperti yang disebut banyak orang dengan “Garwa” Sigare nyawa atau separuhnya hidup, susah senang berdua, mendidik dan membesarkan anak berdua, Nabi pernah mengatakan membaca surat Al-Kafirun, At-Takatsur, Az-Zalzalah dan Al-Ikhlas sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan istri 4 bahkan lebih, tapi tidak akan saya tunjukkan bagaimana amalan membacanya, sudah cukup 1 istri saja.

Menikah adalah sunnah Nabi, dalam pernikahan memiliki tujuan khusus yang disebutkan oleh Al-Qur’an yakni agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Sakinah berarti tenang, jiwanya tentram, pulang kerja masuk rumah melihat istri hatinya tenang, masalah yang ada di luar teredam karena kelembutan istri. Sebaliknya istri kepada suami berbakti, melayani kebutuhan suami karena lelah seharian bekerja. Mawaddah artinya mencintai, di dalam kitab tafsir dijelaskan perbedaan antara mahabbah dan mawaddah, Al-Qur’an menggunakan istilah mawaddah karena mawaddah lebih dari sekedar mencintai (mahabbah) tetapi juga mencintai apa yang dicintai pasangan, menerima sifat-sifatnya yang tentu tidak sempurna sebagai manusia, perbedaan sifat dan karakter itu menjadikan sepasang suami istri sebagai pasangan yang komplementer, saling melengkapi, karena suami adalah pakaian istri dan istri adalah pakaian suami ( Hunna libaasun lakum wa antum libaasun lakum ), saling menutupi aib dan saling menjaga kehormatan ( muru’ah ). Sedangkan kalimat rahmah ditaruh paling akhir, karena semakin lama hidup berumah tangga dengan berbagai hak dan kewajiban juga tanggung jawab yang dipikul menjadikan dua pasangan tidak lagi memikirkan hal-hal tentang percintaan, bukan semakin berkurang cintanya tetapi semakin bertambah kewajibannya, yang justru kewajiban-kewajiban tersebut adalah wujud dari cinta antara suami istri, disebutlah bahwa rahmah adalah welas asih, rasa kasihan kepada pasangan, melihat istri tidak berhenti melakukan pekerjaan rumah dan mengurus anak-anak dari bangun tidur sampai mau tidur timbul belas kasihan, timbul rasa iba, akhirnya suami tidak berani membangunkan istrinya yang sedang beristirahat.

Nabi Agung kita, Muhammad SAW, saat itu Nabi belum pulang dari perjalanan berdakwah, Sayyidah Aisyah menanti kehadiran Rasulullah, agar terdengar bunyi salam dari Nabi maka Aisyah tidur di ruang tamu, karena hampir malam Nabi belum juga datang akhirnya Aisyah tertidur. Nabi pulang, sampai di depan pintu rumah salam tidak dijawab, Nabi merasa kasihan kepada Aisyah karena Nabi menyangka Aisyah sudah tidur, sehingga tidak mau membangunkan istrinya dengan beberapa kali salam atau ketukan pintu, Nabi tidur di luar berselimutkan sorbannya. Pada waktu subuh Aisyah terbangun dan mendapati Nabi tertidur di luar, Aisyah menghampiri Nabi dan meminta maaf atas kesalahannya, sebaliknya Nabi mengatakan yang salah adalah beliau, mereka saling menyalahkan diri sendiri dan pada akhirnya saling memaafkan. Begitu sempurna akhlak Nabi dan istrinya yang bisa kita contoh dalam mewujudkan sakinah mawaddah dan rahmah..

Mulailah sesuatu apapun dengan basmalah dan bersyukur, agar kaffah iman kita sebagai hamba Allah. Kehidupan itu isinya cuma dua. Kalau tidak sabar ya bersyukur, kalau tidak bersyukur ya bersabar. Wallahu a’lam bissowab

Lihat Juga

Tarbiah Ruh, Tribute to Guru Budi

Oleh: Uswatun Hasanah (Guru ngaji di PP. Al-Azhar) Seorang santri di salah satu pesantren kedapatan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 4 =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.