Al-Azhar News
Home | Kolom Pengasuh | Parenting Mana yang Harus Diikuti?

Parenting Mana yang Harus Diikuti?

                             source: pinterest

Oleh: Uswatun Hasanah

Dulu ilmu parenting diajarkan turun-temurun dari orang tua ke anak, biasanya orang tua mulai mengajarkan ilmu mendidik anak saat anaknya memulai hidup baru, mulai dari aturan-aturan setelah menikah, cara bersosial dengan mertua dan tetangga pasca menikah, pada tahap perempuan hamil dan melahirkan, ada beberapa arahan tentang bagaimana cara menjaga kehamilan, cara menggendong, cara merawat, cara mengasuh dan mendidik anak. Sampai terkadang kita sebagai orang tua merasa ‘kalah’ terhadap hak mengasuh anak dengan cara kita sendiri.

Referensi orang tua kita dulu adalah warisan yang turun-temurun juga. Semacam ada mata rantai parenting yang tidak pernah habis. Saat ini internet sangat mudah diakses karena sebagian masyarakat memiliki smartphone, ilmu parenting juga menjamur, mulai dari ilmu parenting dari sisi agama, parenting barat sampai parenting psikologi, broadcast parenting dari motivator, psikolog dan tokoh agama pun tak ketinggalan menghiasi dunia parenting. Semua ingin menjadi orang tua yang baik dan ideal bahkan menjadi percontohan bagi semua orang tua dalam mendidik anak. Lalu parenting yang bagaimana yang harus kita ikuti?

Parenting adalah proses pembelajaran pengasuhan interaksi antara orang tua dan anak. Selain ilmu parenting tradisional ada juga mitos dan adat. Kedua hal tersebut harus kita sikapi dengan bijak tanpa harus meninggalkan adat dan kebudayaan yang telah berjalan dengan harmonis di masyarakat.

Mitos adalah penafsiran alam semesta beserta keberadaan makhluk di dalamnya, umumnya orang tua sering memberikan kita nasehat yang berkaitan dengan mitos-mitos ini, contoh kecil saja tidak boleh duduk di bantal nanti bisulan, perawan jangan duduk di depan pintu karena nanti bisa mempersulit jodoh, tidak boleh menyembelih hewan atau memancing saat istri sedang hamil karena dikhawatirkan anaknya menjadi sumbing, dsb. Sebenarnya tujuan dari disampaikannya mitos-mitos tersebut oleh orang tua memiliki maksud dan tujuan yang baik, tidak boleh duduk di bantal karena bantal tempatnya kepala, tidak boleh duduk di depan pintu karena kurang sopan, suami tidak boleh memancing saat istri hamil karena tujuannya agar tidak menyakiti binatang, lalu mengapa terkadang mitos-mitos tersebut justru malah terjadi? Itu sebab dari pikiran sendiri, terlalu meremehkan nasehat yang baik sehingga justru terbawa dalam sikap, menggiring alam bawah sadar, bukankah Tuhan itu tergantung pada prasangka hambaNya? Nyatanya juga banyak yang bisulan padahal tidak duduk di atas bantal, belum menikah padahal tidak pernah duduk di depan pintu, dst.

Sisi parenting dari mitos ini adalah tetap memelihara sekaligus menggali kebaikan-kebaikan yang tidak tampak yang dulunya dibungkus dengan akibat-akibat yang membuat pendengarnya jera akhirnya menaati nasehat orang tua. Jadi bukan hanya memerangi mitos tersebut, apalagi sampai meremehkan nasehat-nasehat orang tua yang diungkapkan secara frontal. Namun kita bisa mengarahkannya ke arah yang lebih logis dan positif. Ada pula mitos yang perlu untuk ditinggalkan sekiranya dari mitos tersebut berada di luar anjuran agama dan di luar nalar juga norma sosial.

Tentang adat, seiring dengan perkembangan zaman, semakin banyak yang meninggalkan adat dan kebudayaan dengan berbagai alasan medis ataupun aturan agama, seperti adat sunat untuk anak perempuan, adat menikah dengan family terdekat untuk mempertahankan keturunan, adat perempuan melamar laki-laki. Mengikuti adat setempat yang tidak bertentangan dengan nilai agama merupakan bentuk pelestarian kebudayaan yang telah mengakar. Ketika menjadi anak, kita pasrah terhadap adat yang diberlakukan oleh orang tua, ketika kita menjadi orang tua kelak, kita bisa saja mendobrak kebudayaan yang ada, namun dengan syarat tanpa menghilangkan unsur budaya yang dibangun oleh para tetua. Sebab suatu bangsa yang telah memiliki kebudayaan yang tinggi, pasti memiliki peradaban yang tinggi pula.

Kemodernan saat ini banyak yang hampir menggerus budaya, cara pandang, cara berpikir dan parenting tradisional. Tulisan parenting modern yang kebanyakan diadopsi dari barat menjadi hipnotis mama muda masa kini, menjadi corong para motivator, begitu pula seminar parentingnya, di suatu lembaga pendidikan maupun sosial yang bekerja sama dengan produk khas anak-anak membuka kelas parenting dengan tema beraneka ragam, dikemas dengan meyakinkan, tidak sedikit ibu-ibu yang merasa terharu dan menyesal tentang perlakuannya pada anak setelah mengikuti parenting, tapi tunggu beberapa hari ke depan, ibu-ibu mulai lupa ilmu parenting yang didapat, yang biasanya marahi anak saat melakukan kesalahan kembali lagi perlakuannya seolah lupa telah mengikuti parenting. Lalu sebagian dari mereka justru merasa gagal sebagai orang tua atau gagal menjadi ibu yang baik sebab tidak sesuai dengan standar parenting.

Belum lagi zaman sosmed yang mewadahi grup mama muda dalam mengasuh dan mendidik anak, yang pro sufor dan pejuang ASI, yang working mom dan Ibu Rumah Tangga, yang suaminya membantu pekerjaan istri dan yang suaminya sibuk bekerja dan menyerahkan seluruh urusan domestik rumah tangga kepada istri, yang Ibu Rumah Tangga dengan IRT yang merangkap bisnis online, saling mencibir dengan dalih bendera kebenaran yang dikibarkan penuh bangga, padahal semua ibu adalah baik, menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya. Terkadang seseorang menginginkan menjadi ibu dengan standar ibu ideal yang sabar, telaten terhadap anak, tidak marah kepada anak, melayani keluarga dan tidak bekerja di luar dan standar-standar lainnya akan menjadikan seseorang menjadi robot sistem parenting. Tidak tahan banting dan lagi-lagi banyak yang merasa gagal menjadi orang tua.

Memang mendidik anak bukan hal yang mudah, membaca beberapa parenting yang isinya anjuran kepada orang tua untuk tidak marah dan tidak meninggikan suara adalah teori yang imposible, sesuatu yang sangat sulit di aplikasikan, karena mengkondisikan anak dalam proses belajar adalah bukan sesuatu yang mudah apalagi kalau anaknya banyak. 🙂

“Jangan membentak anak, jangan memarahi anak karena dapat membunuh jutaan sel otak, tidak boleh mengatakan ‘jangan’ kepada anak.” Kita mungkin familiar pada parenting ini di beberapa artikel, sedangkan parenting agama menghendaki orang tua untuk sering memberikan nasehat ‘jangan’ kepada anak.

Karakter anak tidak dapat disamakan, marah orang tua pada anak bisa saja memiliki level seperti menu ayam geprek 😌 silahkan pilih porsinya kalau memang itu bertujuan untuk membentuk karakter anak yang tahan banting. Yang tidak boleh adalah mengumbar kalimat yang menyakitkan bagi anak, melabeli dan membunuh karakternya.

Ada orang tua yang memilih untuk bersabar mengarahkan anaknya tanpa bersuara tinggi, silahkan jika tanpa bersuara tinggi anak bisa menurut dan mampu membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk.

Ada seorang ibu yang membiarkan anaknya ketika mencoret-coret tembok, ia berdalih ini untuk menunjang kreatifitas anak-anak.

Ada seorang ibu yang mengalihkan ke kertas atau papan saat anaknya mencoret-coret tembok, ia berdalih mengajarkan anak untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya sedari kecil, mengajarkan kebersihan dan kerapihan.

Ada ibu yang memarahi anaknya saat anaknya mencoret-coret tembok, ia berdalih anaknya super, kalau tidak dimarahi anaknya semakin membikin ulah, melunjak.

Konsep pendidikan karakter paling ideal adalah dengan tidak mengikuti standar parenting dari luar. Parenting terbaik adalah parenting hati nurani, karena hati nurani merupakan esensi tunggal dan sempurna, dimana wataknya adalah mengingat, terjaga, berfikir, membedakan antara yang baik dan buruk, kuasa menangkap seluruh ilmu, dan tak jemu memungut bentuk-bentuk non materi. Tanyakan pada diri masing-masing, pantaskah kita sebagai orang tua mengemban amanah dariNya? Sudah sampai manakah tirakat kita sebagai orang tua dalam mendidik putra-putri kita?

Hanya orang tua lah yang tahu mana yang terbaik untuk putra-putrinya. Begitupun dengan cara didikannya mungkin berbeda, yang boleh disamaratakan hanyalah doa kita sebagai orang tua terutama ibu, semoga kelak putra-putri kita menjadi insan yang berilmu, berakhlak, menjadi generasi cemerlang untuk kesalihan pribadi dan kesalihan sosial.

Lihat Juga

Hafalan Qur’an Kilat

Oleh: Uswatun Hasanah (Guru Ngaji PP Al-Azhar) Tahfidz, program yang menggiurkan, menjamur di tiap lembaga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × four =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.