Al-Azhar News
Home | Artikel | Refleksi Peristiwa Qurban

Refleksi Peristiwa Qurban

uswatun hasanah
Uswatun Hasanah

Oleh: Uswatun Hasanah, SHI
(Guru Ngaji di PP. Al-Azhar)

Setelah perjalanan panjang Ibrahim ke Palestina berdakwah bertahun-tahun meninggalkan keluarganya, Ibrahim pulang menemui Hajar dan putranya Ismail di Makkah, dilihatnya Ismail tumbuh menjadi remaja yang tampan dan sopan (riwayat mengatakan sekitar 13 tahun). Hingga muncullah rasa sayang begitu dalam pada putranya yang telah lama ditinggalkannya, apalagi Ibrahim tahu bahwa Ismail adalah tokoh utama dalam sejarah sumur Zamzam1)Zamzam (bahasa Arab: زمزم berarti banyak, melimpah-ruah) adalah air yang dianggap sebagai air suci oleh umat Islam. Zamzam merupakan sumur mata air yang terletak di kawasan Masjidil Haram, sebelah tenggara Kabah, berkedalaman 42 meter. Menurut riwayat, mata air tersebut ditemukan pertama kali oleh Hajar setelah berlari-lari bolak-balik antara bukit Safa dengan bukit Marwah, atas petunjuk Malaikat Jibril, tatkala Ismail, putera Hajar, mengalami kehausan di tengah padang pasir, sedangkan persediaan air tidak ada kemuliaan lewat air Zamzam melalui perintah Allah Ta’ala. Maka Allah mengutus Malaikat Jibril. Sesaat setelah Jibril menghentak kaki -yang kemudian menjadi tempat Zamzam itu, Ibunda Nabi Ismail AS menampung air yang mengalir dengan menggali tanah di sekitar keluar airnya itu agar air itu tak hilang ketika dia ambil kantong minumnya. Rasulullah melanjutkan, “Andai ibu Ismail tidak menampung air itu, tentu sekarag sumur Zamzam sudah jadi mata air yang mengalir.” Jibril kemudian menceritakan bahwa lokasi itu kelak adalah Baitullah yang akan dibangun Ibrahim AS dan Ismail AS. Peristiwa itu terjadi 1910 SM, 2572 tahun sebelum kelahiran Rasulullah, atau sekitar 4000 tahun yang lalu., air ajaib yang penuh berkah, ditambah sifat Ismail yang penyabar dan lemah lembut serasa Ibrahim meleleh, ingin melepas segala kerinduannya pada putra pertamanya bersama Hajar, tak ubahnya seperti orang tua pada umumnya yang telah lama merantau meninggalkan anaknya, pertemuan pertama kali dengan Ismail mendapatkan tempat di hati Ibrahim, ditatapnya dengan dalam wajah Ismail saat tertidur sembari bersyukur pada Tuhan atas penjagaan-Nya selama ia berdakwah. Yang dicintai Tuhan pasti diuji, dalam tidur Ibrahim bermimpi diperintahkan Allah untuk menyembelih Ismail, Ibrahim terbangun dan hampir-hampir tidak percaya atas mimpinya, sebagaimana ada mimpi para Nabi adalah wahyu Ilahi, ia kembali menutup matanya, namun semakin dipejamkan semakin tampak jelas perintah penyembelihan Ismail, hingga berulang sampai tiga kali, Ibrahim yakin bahwa perintah tersebut nyata dari Allah dan harus dilaksanakan.2)Para Ulama berbeda pendapat tentang siapakah putra dari Ibrahim yang disembelih, ada yang mengatakan Ishaq, ada yang mengatakan Ismail, menurut riwayat Ahl al-Bait yang disembelih adalah Ishaq, sedangkan menurut riwayat ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yang disembelih adalah Ismail dan ada juga Ishaq, tapi jika diperhatikan ayat perintah penyembelihan dalam surat as-Saffat yang paling mungkin adalah Ismail, karena Ismail adalah anak pertama dari Ibrahim, meskipun dari Ibu yang statusnya hamba sahaya, dan pada saat itu Ishaq belum lahir, kelahiran Ishaq diceritakan pada ayat selanjutnya, maka bisa diambil pelajaran bahwa keikhlasan Ibrahim mempersembahkan Ismail kepada Tuhan menjadikan keridlaan Tuhan kepadanya sehingga kebahagiaan yang diperoleh menjadi bertambah, yakni pembatalan perintah sembelih yang diganti hewan qurban dan beberapa tahun kemudian Ibrahim dianugrahi lagi seorang anak bernama Ishaq, tapi siapapun yang disembelih pada saat itu yang jelas Ismail dan Ishaq adalah dua orang Nabi suci yang keduanya dipuji Allah.

Jpeg

Dilema sebagai seorang ayah, tentu saja ini adalah ujian yang sangat berat, belum puas menghabiskan waktu bersama putranya sudah ada perintah untuk meyembelihnya, namun Ibrahim mencoba untuk mengikhlaskan ujian ini karena Ibrahim tahu Tuhan memberikan ujian yang pasti bisa dilaluinya, mencoba menerka maksud Tuhan, di lubuk hati yang terdalam ia meyakini bahwa ketetapan Tuhan selalu baik. Ibrahim adalah sosok pemimpin yang demokratis, sungguh Ia tak ber-Tuhan dengan egois, Ia meminta pendapat terlebih dahulu kepada putranya, meskipun Ibrahim tahu bahwa mandat dari Tuhan harus dilaksanakan tanpa boleh ditawar. Adapun jika Ismail menolak, sudah dapat dipastikan bahwa ia durhaka sebagaimana durhakanya putra Nuh. Istrinya, Hajar yang telah diberitahu tentang perintah ini, segera mempertajam pisau sebagai persiapan penyembelihan, menandakan keridlaannya pula atas perintah Tuhan.

“Bagaimana menurutmu (tentang perintah ini)?”, tanya Ibrahim kepada putranya3)Sikap Ibrahim adalah contoh bagi orang tua agar tidak melulu memaksakan kehendak, bahkan kehendak Tuhan sekalipun. Islam pun agama yang sangat toleran dalam menerapkan syariat kepada penganutnya, tentang perintah wajib sholat contohnya, jika sehat dan mampu maka berdiri, jika sakit bisa dengan duduk, berbaring atau isyarat mata, jika bepergian bisa diringkas, Tuhan memang Maha Berkehendak tapi tidak pernah memaksakan kehendakNya.. Ibrahim memberikan kesempatan kepada Ismail untuk berpendapat, mendengarkan curhatan, bertabayyun dan berbicara dengan hati, hal tersebut sebenarnya adalah kunci utama terbangunnya kepercayaan diri seorang anak, meningkatkan semangat juangnya serta membangun kerangka psikologisnya secara intensif, jika hal ini mampu diterapkan oleh seluruh orang tua maka tak diragukan lagi akan terjalin kuat cinta kasih antara anak, orang tua dan Rabbnya, tidak terbayangkan jika yang diucapkan Ibrahim kepada Ismail bersifat instruktif, seperti “Aku akan menyembelihmu dan kau harus ridlo karna ini perintah Tuhan kita”, atau bahkan diam-diam Ibrahim melaksanakan perintah Tuhannya dengan tiba-tiba disembelih tanpa ada persiapan.

Hasil diskusi dari hati ke hati tersebut menghasilkan pernyataan Ismail yang mengagumkan, “yaa abati if’al maa tu’mar”,4)Abati adalah panggilan yang lembut penuh kasih sayang kepada orang tua, lebih tawaddu’ daripada panggilan “Abi” dalam bahasa Arab.wahai ayahku yang sangat kucintai laksanakanlah sebagaimana yang diperintahkan Tuhan“. Maka, perintah yang secara kasat mata tampak seperti KDRT anak, langsung digantikan Allah berupa nikmat menyembelih hewan qurban berupa domba yang sangat besar, dalam hal ini hewan qurban tidak harus domba/kambing, bisa juga sapi, kerbau atau unta.

Peristiwa ini mengajarkan kita banyak hal, diantaranya untuk tidak su’udzon dengan perintah/takdir Tuhan, adakalanya sesuatu yang tidak disukai boleh jadi itulah yang terbaik dari Tuhan, hanya tinggal menggali hikmah setelah kita ridla dengan ketentuan-Nya, sebagai seorang muslim kita tidak boleh ber-Tuhan dengan egois atau meminjam istilahnya Prof. Qomar “jangan ber-Tuhan dengan marah”, melihat orang lain maksiat, marah!, melihat seorang wanita memakai baju ketat, mencibir!, melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan hati kita, langsung mengolok!, mari melihat Ibrahim, Tuhan memerintahkan menyembelih Ismail, tidak langsung disembelih atas nama perintah yang mutlak dipaksakan kepada Ismail. Bercermin pula pada sikap Nabi Muhammad, saat itu Sayyid Husain (cucu Nabi SAW) memiliki anjing yang dipelihara di rumah, setiap hari Sayyid Husain bermain-main dengan anjingnya, Rasulullah melihat dan tersenyum menyaksikan cucunya bersenda gurau dengan anjing, bukankah anjing adalah hewan najis dan Nabi sendiri bersabda bahwa malaikat tidak mau masuk rumah jika ada anjing? Sekali lagi karena Nabi menghargai kecintaan orang lain, terlebih pada anak-anak, begitulah sikap para Nabi kita yang demokratis, mau memahami orang lain, mau mendengarkan orang lain dan memimpin dengan lemah lembut.

Terakhir, mengapa Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail? Sebenarnya persembahan adalah budaya masyarakat pada masa itu, hampir seantero dunia masyarakat manusia rela mempersembahkan manusia sebagai sesaji kepada Tuhan yang disembah, di Mesir gadis cantik dipersembahkan pada Dewa sungai Nil, Di Kan’an, Irak, yang dipersembahkan kepada Dewi Baal adalah bayi, di Meksiko, Suku Astec mempersembahkan jantung dan darah manusia kepada Dewa Matahari, di Eropa Timur orang-orang Viking mempersembahkan pemuka agama mereka pada Dewa Odion (Dewa Perang), maka risalah ini turun untuk memberikan hikmah kepada ummat Ibrahim bahwa Allah mengasihi manusia, kasih sayang-Nya kepada makhluk ini menjadikan Dia melarang persembahan manusia sebagai tumbal ataupun korban, sehingga persembahan anak diganti dengan hewan qurban, Maha Besar Allah sebaik-baik Pemberi ibrah.[]

Catatan Kaki   [ + ]

1.Zamzam (bahasa Arab: زمزم berarti banyak, melimpah-ruah) adalah air yang dianggap sebagai air suci oleh umat Islam. Zamzam merupakan sumur mata air yang terletak di kawasan Masjidil Haram, sebelah tenggara Kabah, berkedalaman 42 meter. Menurut riwayat, mata air tersebut ditemukan pertama kali oleh Hajar setelah berlari-lari bolak-balik antara bukit Safa dengan bukit Marwah, atas petunjuk Malaikat Jibril, tatkala Ismail, putera Hajar, mengalami kehausan di tengah padang pasir, sedangkan persediaan air tidak ada kemuliaan lewat air Zamzam melalui perintah Allah Ta’ala. Maka Allah mengutus Malaikat Jibril. Sesaat setelah Jibril menghentak kaki -yang kemudian menjadi tempat Zamzam itu, Ibunda Nabi Ismail AS menampung air yang mengalir dengan menggali tanah di sekitar keluar airnya itu agar air itu tak hilang ketika dia ambil kantong minumnya. Rasulullah melanjutkan, “Andai ibu Ismail tidak menampung air itu, tentu sekarag sumur Zamzam sudah jadi mata air yang mengalir.” Jibril kemudian menceritakan bahwa lokasi itu kelak adalah Baitullah yang akan dibangun Ibrahim AS dan Ismail AS. Peristiwa itu terjadi 1910 SM, 2572 tahun sebelum kelahiran Rasulullah, atau sekitar 4000 tahun yang lalu.
2.Para Ulama berbeda pendapat tentang siapakah putra dari Ibrahim yang disembelih, ada yang mengatakan Ishaq, ada yang mengatakan Ismail, menurut riwayat Ahl al-Bait yang disembelih adalah Ishaq, sedangkan menurut riwayat ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yang disembelih adalah Ismail dan ada juga Ishaq, tapi jika diperhatikan ayat perintah penyembelihan dalam surat as-Saffat yang paling mungkin adalah Ismail, karena Ismail adalah anak pertama dari Ibrahim, meskipun dari Ibu yang statusnya hamba sahaya, dan pada saat itu Ishaq belum lahir, kelahiran Ishaq diceritakan pada ayat selanjutnya, maka bisa diambil pelajaran bahwa keikhlasan Ibrahim mempersembahkan Ismail kepada Tuhan menjadikan keridlaan Tuhan kepadanya sehingga kebahagiaan yang diperoleh menjadi bertambah, yakni pembatalan perintah sembelih yang diganti hewan qurban dan beberapa tahun kemudian Ibrahim dianugrahi lagi seorang anak bernama Ishaq, tapi siapapun yang disembelih pada saat itu yang jelas Ismail dan Ishaq adalah dua orang Nabi suci yang keduanya dipuji Allah.
3.Sikap Ibrahim adalah contoh bagi orang tua agar tidak melulu memaksakan kehendak, bahkan kehendak Tuhan sekalipun. Islam pun agama yang sangat toleran dalam menerapkan syariat kepada penganutnya, tentang perintah wajib sholat contohnya, jika sehat dan mampu maka berdiri, jika sakit bisa dengan duduk, berbaring atau isyarat mata, jika bepergian bisa diringkas, Tuhan memang Maha Berkehendak tapi tidak pernah memaksakan kehendakNya.
4.Abati adalah panggilan yang lembut penuh kasih sayang kepada orang tua, lebih tawaddu’ daripada panggilan “Abi” dalam bahasa Arab.

Lihat Juga

27972153_10160152661275533_4715325240673591800_n

“Pisau” dan “Bawang”: Renungan tentang ilmu dan ilmuwan

Oleh: Gus Ulil Abshar Abdalla Ada dua jenis pengetahuan yang tumbuh dalam dua tradisi yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × one =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.