Al-Azhar News
Home | Hikmah | Safari Muharram

Safari Muharram

Oleh: Drs. KH. M. Ma’shum Maulani, M.Pd.I
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar

Saat ini kita telah memasuki Bulan Muharram 1440 H, tahun baru bagi seluruh umat muslim di dunia. Makna harfiah dari Muharram adalah diharamkannya peperangan dan segala konflik, karena dalam Al-Qur’an telah disebutkan bahwa bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah (arba’atun hurum). Pada bulan ini menurut Fakhruddin Ar-Razi, setiap perbuatan maksiat akan mendapatkan siksa yang lebih dahsyat, sebaliknya jika pada bulan ini diisi dengan amal ibadah maka akan dilipatgandakan pahalanya.

Pada bulan Muharram terdapat hari yang istimewa, yakni pada tanggal 10, disebut hari ‘Asyura, hari ‘Asyura adalah lautan momentum yang luar biasa dimana tiap kisahnya merupakan keutamaan yang diberikan Allah untuk para Nabi yang mulia. Pertama, kemenangan Nabiyullah Musa ‘alaihi as-salam atas Fir’aun. Kedua, selamatnya umat Nabi Nuh ‘alaihi as-salam dari bencana banjir dengan menaiki kapal. Ketiga, keselamatan atas Nabi Yunus ‘alaihi as-salam yang keluar dari perut ikan. Keempat, ampunan Allah kepada Nabiyullah Adam ‘alaihi as-salam atas keaalahan yang dilakukan sebelum diturunkan ke bumi. Kelima, diangkatnya Nabi Yusuf ‘alaihi as-salam dari sumur pembuangan oleh saudara-saudaranya. Keenam, kelahiran Nabiyullah ‘Isa ‘alaihi as-salam. Ketujuh, ampunan Allah kepada Nabi Daud ‘alaihi as-salam. Kedelapan, kelahiran Nabi Ibrahim ‘alaihi as-salam. Kesembilan, kembalinya penglihatan Nabi Ya’qub ‘alaihi as-salam setelah menangisi kepergian putranya, Nabi Yusuf dan kesepuluh, merupakan kasih sayang Allah untuk kekasihNya, Muhammad, dengan menghapus kesalahan Nabi Muhammad yang telah lampau dan yang akan datang.

Hikmah yang dapat kita petik dari momen bersejarah hari asyura adalah kita dapat mencontoh akhlak para nabi, tentang bagaimana cara kita berkomunikasi dan berkontemplasi sebagaimana Nabi Musa yang Kalimullah. Ketaatan tanpa syarat kepada Allah sebagaimana Nabi Nuh yang membuat kapal dan mengajak ummatnya untuk menaikinya mengikuti perintah Allah. Bersikap optimis dan husnudzan kepada Allah sebagaimana Nabi Yunus yang berada di dalam perut ikan dan dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk selamat. Senantiasa memohon maghfiroh Allah sebagaimana Nabiyullah Adam yang tidak pernah putus asa bertaubat selama 40 tahun untuk memohon ampunan Allah, bersabar dan tidak membalas dendam di tengah lingkungan yang tidak diinginkan layaknya Nabiyullah Yusuf yang tidak diharapkan keberadaannya. Menyingkirkan sikap ketuhanan dalam diri karena merasa superior sebagaimana Nabiyullah Isa yang tetap merisalahkan ketauhidan sekalipun kelahirannya dikultuskan. Merasa yakin bahwa yang dipisahkan oleh Allah akan dipertemukan sebagaimana Nabi Ya’qub yang menjadi buta lantaran menangisi kepergian putra kesayangan Nabiyullah Yusuf dan pada akhirnya dipertemukan kembali dan sembuhlah penglihatannya. Pada momen dimana Allah menciptakan kekasihNya yang suci dan tanpa dosa, pada saat itulah kita memperbanyak membaca sholawat agar kita mendapatkan syafaat Nabi Muhammad SAW. Pada hari ke-9 dan ke-10 Bulan Muharram, kaum muslim disunnahkan untuk berpuasa karena pahala dari berpuasa di hari asyura dapat menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.

Hari ‘Asyura juga disebut dengan ‘Idul Yatama atau lebaran untuk para yatim. Tak sedikit perorangan ataupun lembaga yang mengejar kemuliaan 10 Muharram dengan menyisihkan sebagian harta untuk diberikan kepada yatim piatu. Begitu pula BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) Kota Mojokerto yang memberikan santunan pada anak yatim melalui acara Safari Muharram tepat pada tanggal 10 Muharram 1440 H. Ada 7 Panti Asuhan di Kota Mojokerto yang akan didatangi dan mendapatkan santunan, diharapkan pada acara Safari Muharram ini BAZNAS sebagai wakil dari para donatur infak dan sedekah dapat bersilaturrahim dengan anak yatim dan dapat mendistribusikan santunan dengan tepat sasaran.

Pada Bulan Ramadhan 1439 H, BAZNAS Kota Mojokerto mengadakan buka bersama 500 yatim non panti dengan bingkisan berupa tas dan keperluan alat sekolah. Jadi santunan tidak hanya fokus pada anak yatim panti, tetapi juga non panti.

Perlu diketahui bahwa obyek penerima santunan ini adalah anak yatim, ada klasifikasi penyaluran dana terkait zakat, infak dan sedekah. Sekalipun BAZNAS bergerak dalam pengumpul dan pendistribusian zakat, BAZNAS juga berperan dalam pengolahan dana selain zakat, seperti infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya (UU No. 23 tahun 2011 pasal 28 tentang pengelolaan zakat).

Untuk zakat memang sudah pasti distribusinya, yaitu untuk 8 ashnaf, tetapi jika penerimanya adalah anak yatim maka sumber dananya diambilkan dari dana infak dan sedekah atau dana sosial keagamaan lainnya. Apabila anak yatim tersebut sudah akil baligh maka keyatimannya berakhir. Hal ini berdasarkan kaidah syar’i sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas RA, Sesungguhnya sebutan yatim itu putus bila ia sudah baligh dan menjadi dewasa.

Safari Muharram tahun ini merupakan Kegiatan Muharram Perdana yang dilaksanakan oleh BAZNAS Kota Mojokerto, diharapkan kegiatan ini akan berkesinambungan di tahun berikutnya dan santunan untuk anak yatim tidak hanya diberikan saat Ramadhan dan Muharram saja, tetapi di bulan-bulan lain mampu menyantuni juga memberikan modal untuk pengelola panti atau yatim non panti agar kelak bisa menjadi yatim yang bermental mandiri dan mampu membekali diri ke depan dari segi ekonomi.

Safari Muharram BAZNAS Kota Mojokerto adalah salah satu syiar Islam untuk menekankan betapa pentingnya menyayangi dan menyantuni anak yatim. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat menyayangi anak-anak yatim. Dan beliau lebih menyayangi lagi pada hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Dimana pada tanggal tersebut, Beliau menjamu dan bersedekah bukan hanya kepada anak yatim, tapi juga keluarganya. Dalam hadis lain disebutkan, barangsiapa berpuasa para hari Asyura, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala sepuluh ribu para syuhada’. Barang siapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapkan pada anak yatim. Ada yang memaknai mengusap rambut ini secara hakiki (tekstual) sebagaimana dalam redaksi hadis “mengusap rambut”, ada yang memaknai secara kontekstual, yakni menunjukkan sikap kasih sayang dalam ucapan dan perbuatan, menyantuni mereka baik berupa penghidupan atau pendidikan yang layak.

Tradisi menyantuni anak yatim pada hari Asyura memang sudah ada sejak zaman Nabi hingga muncul istilah Idul Yatama. Namun, yang dimaksud Idul Yatama bukanlah hari raya seperti Idul Fitri atau Idul Adha, melainkan momen untuk membahagiakan hati anak-anak yatim. Juga waktu yang tepat untuk mengingatkan orang yang selama ini acuh tak acuh agar terbuka mata hatinya sehingga mau memperhatikan nasib anak-anak yatim. Idul Yatama tidak pula dimaksudkan bahwa santunan kepada anak yatim hanya berlangsung pada hari Asyura saja, karena menyantuni anak yatim bisa dilakukan kapanpun dan di manapun.

Lihat Juga

Hafalan Qur’an Kilat

Oleh: Uswatun Hasanah (Guru Ngaji PP Al-Azhar) Tahfidz, program yang menggiurkan, menjamur di tiap lembaga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − fourteen =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.