Al-Azhar News
Home | Tanya Jawab Fiqh | Selamatan Hari Ketujuh Setelah Kematian

Selamatan Hari Ketujuh Setelah Kematian

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum, saya mau bertanya. Di kampung-kampung, ada kebiasaan mengadakan selamatan pada hari ke-7, hari ke-40, ke-100, dan ke-1000 setelah kematian seseorang. Bagaimanakah hukumnya, dan bagaimana pula masalah hidangan yang disajikan pada saat kematian?

Jawaban:
Wa’alaikumsalam Wr. Wb. Pertanyaan ini cukup bagus dan banyak yang menanyakan pertanyaan seperti ini.

Mengenai hidangan yang disajikan pada waktu takziyah, para ulama berbeda pendapat. Ada yang memperbolehkan dan ada yang tidak. Menurut pendapat guru saya, Syekh Isma’il Zain dalam kitabnya Qurratul ‘Ain fi Fatawa Isma’il Zain, hukumnya boleh. Alasannya, Rasulullah SAW pernah bertakziyah ke salah satu sahabat yang sedang terkena musibah. Setelah pulang dari makam, beliau dipersilahkan untuk singgah sesaat di  rumah duka untuk diberi suguhan kambing. Saat itu beliau memang tidak maumakan, namun mempersilahkan para sahabat supaya makan. Beliau tidak mau karenakambing yang dibuat suguhan tersebut pada hakikatnya memiliki sedikit masalah yang menyebabkannya tidak layak dimakan oleh orang wira’i. Artinya, Nabi SAW tidak melarang. Hadits tersebut terdapat pada kitab Sunan Abu Dawud, sudah di-tahrij, dan di-tahqiq, dan ternyata tidak dikatakan dhaif/lemah. Namun, pada SyarahAbu Dawud maupun Syarah at-Tirmidzi karangan orang-orang sekarang yang dari Pakistan atau India, hadits tersebut dianggap dha’if.

Hadits ini memang berbenturan dengan hadits lain yang melarang sajian makan di rumah duka. Namun ini adalah urusan usul fiqih dan kaidah-kaidahnya. Kesimpulannya, ketidakbolehan tersebut apabila terdapat unsur na’yu atau niakhah (membuat susah). Kalau sifatnya hanya memberi sedekah seperti biasa, tanpa mengandung unsur menyusahkan, hukumnya boleh.

Demikianlah hukum aslinya. Sekarang bagaimana kebiasaan tersebut dalam budaya jawa? Hukumnya di-tafsil. Apabila sajian berasal dari harta halal, artinya dari pihak keluarga, bukan harta anak yatim (anak si mayit-ed.) hukumnya boleh, seperti hukum asli yang sudah saya terangkan tadi. Apabila uang yang digunakan untuk memberi sajian berasal dari harta anak yatim, hartanya orang lain, atau harta peninggalan mayit yang tidak ada ridha dari semua ahli waris, hukumnya haram. Sebab, harta anak yatim tidak bisa digunakan untuk sedekah. Sekarang banyak orang yang terjerumus, dan kesalahannya adalah menggunakan harta anak yatim.

Selanjutnya masalah selamatan pada hari pertama, hari ketujuh, hari keempat puluh, dan seterusnya. Semestinya kita harus jujur pada diri kita sendiri, ini adalah budaya warisan Budha atau Hindu. Artinya, sebelum Islam masuk ke jawa, budaya tersebut sudah ada. Disinilah kejujuran kita diuji. Tetapi kita harus jujur pula, budaya ini terdapat haditsnya walau dlo’if, bisa dilihat di al-Hawi lil Fatawi karya Imam as-Suyuti atau di Hububal-Munabbih, kalau tidak salah masalah hari ke-1, ke-7, dan ke-40, namun, masalahnya, apakah ketentuan tersebut dijadikan pegangan para ulama’? mungkin sebagian ulama’ ada. Saya pribadi tidak berpegangan pada hadits tersebut. Sebab, mengkhususkan (takhsish) selamatan harus pada hari ke-7, ke-3, ke-40, atau yang penting bukan pada hari ke-7 itu salah, bancaan. Pasalnya, pengkhususan yang demikian itu membutuhkan dalil, padahal tidak ada dalilnya. Kemudian bagaimana yang benar? Yang benar, hari ke-7 dan hari-hari yang lainnya sama, sama-sama baik dan boleh untuk selamatan. Jadi tidak harus pada hari ke-7, ke-40, dan seterusnya. Lebih salah lagi jika mempunyai anggapan kalau tidak hari itu, seakan-akan tidak benar sehingga dipaksakan dengan berhutang.

Selanjutnya bagaimana cara menghadapi budaya tersebut? Ada teori dari ulama’ salaf yang mengatakan, apabila terdapat budaya yang salah, warisan orang-orang jahiliyyah, namun sudah memasyarakat, budaya itu tidak dihilangkan, tetapi dibelokkan ke arah yang benar. Teori ini persis seperti kisah dalam sebuah hadits. Disebutkan bahwa pada zaman jahiliyah, kalau ada anak lahir akan disembelihkan kambing, lalu darah kambing dilumurkan pada kepala anak itu. Oleh Nabi, adat tersebut tidak dihilangkan tetapi dibelokkan supaya menjadi budaya yang benar, dengan cara melestarikan budaya sembelih kambingnya sementara pelumuran darah diganti minyak wangi.

Maka dari itu, apabila ada orang yang tidak mau selamatan, jangan diolok-olok. Sebab, itu tidak dosa karena bukan perkara wajib. Orang yang mengadakan selamatan pun jangan disalahkan, sebab itu sunnah. Dan saya himbau, jangan berlebih-lebihan dalam selamatan. Itu tidak benar. Lakukanlah sewajarnya, dan tidak perlu ngoyo (terlalu).

Sekian dan semoga bermanfaat.[]

فتاوى الكبرى ج 2 ص 7

(وسئل) أعاد الله علينا من بركاته عما يذبخ من النعم ويحمل مع ملح خلف الميت إلى المقبرة ويتصدق به على الحفارين فقط وعما يعمل يوم ثالث موته من تهيئة أكل وإطعامه للفقراء وغيرهم وعما يعمل يوم السابع كذلك وعما يعمل يوم تمام الشهر من الكعك ويدار به على بيوت النساء اللاتي حضرت الجنازة ولم يقصدوا بذلك إلا مقتضى عادة أهل البلد حتى أن من لم يفعل ذلك صار ممقوتا عندهم خسيسا لايعابأون به وهل إذا قصدوا يوزع ما صرف على أنصاباء الورثة عند قسمة التركة وإن لم يرض به بعضهم وعن الميت عند أهل الميت إلى مضى شهر من موته لأن ذلك عندهم كالفرض ما حكمه (فأجاب) بقوله جميع ما يفعل مما ذكر فى السؤال من البدع المذمومة لكن لا حرمة فيه الا إن فعل شيء منه لنحو نائحة أو رثاء ومن قصد بفعل شيء منه ألسنة الجهال وخوضهم فى عرضه بسبب الترك يرجى أن يكتب له ثواب ذلك أخذا من أمره صلى الله عليه وسلم من أحدث في الصلاة بوضع يده على أنفه وعللو ابصون عرضه عن خوضه الناس فيه لو انصرف فى غير هذه الكيفية ولا يجوز أن يفعل شيء من ذلك من التركة حيث كان فيها محجور عليه مطلقا أو كانوا كلهم رشداء لكن يرض بعضهم بل من فعله من ماله لم يرجع به على غيره ومن فعله من التركة غرم حصة غيره الذي لم يأذن فيه إذنا صحيحا وإذا كان فى المبيت عنداهل الميت تسليمة لهم أو جبر لخواطهم لم يكن به بأس لأنه من الصلاة المحمودة التي رغب الشارع فيها والكلان في مبيت لا يتسبب عنه مكروه ولا محرم وإلا أعطى حكم ما ترتب عليه إذ للوسائل حكم المقاصد والله سبحانه وتعالى أعلم بالصواب.

قرة العين بفتاوى إسماعيل الزين 86

واعلم أن الوليمة من أهل الميت للمعزين وغيرهم تعتبر من الأعمال الصالحة ومن أنواع البر فهي محمودة شرعا مالم تكن من مال القاصرين. وقد الّفت في هذه الشأن رسالة مفيدة تسمى رفع الاشكال وابطال المغالاة في حكم الوليمة من أهل الميت بعد الوفات فهي وافية بالمقصود حكما ودليلارواية ودراية. وحاصلها أن الأصل في الوليمة الإستحباب ولإستحسان سرعا ولا تخرج عن هذا الأصل إلا لعارض. ولا فرق في ذلك بين كونها قبل الدفن أو بعده كما في الرسالة المذكور.

Diambil dari hasil bahtsul masa’il di PP. Fadhlul Wahid Purwodadi Grobogan Jawa Tengah dibawah asuhan (alm) KH. Abdul Wachid Zuhdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + two =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.