Al-Azhar News
Home | Kolom Guru | Transformasi Paradigma Zakat

Transformasi Paradigma Zakat

Kiai-Ud-saat-mendapatkan-penghargaan-pada-Baznas-Award-2017-Jumat-lalu.-Kiai-Ud-mendapatkan-apresiasi-sebagai-Wali-Kota-pendukung-kebangkitan-zakat-terbaik-seluruh-Indonesia-1-715x400

*diterbitkan di Jawa Pos, Radar Mojokerto edisi 24 Mei 2018

Oleh: Drs. KH. Ma’shum Maulani, M. Pd.I
Ketua Baznas Kota Mojokerto

Ramadhan hadir kembali, pertanda doa kita didengarkan, sebagaimana yang sering didengungkan di Mushalla dan Masjid pada awal bulan Rajab, “Allahumma baarik lanaa fi Rojaba wa Sya’baana wa ballighna Romadhoona”, Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban serta pertemukanlah kami pada bulan Ramadhan. Mengapa Ramadhan menjadi bulan yang paling dirindukan? Dalam sebuah hadis dikatakan, seandainya umatku mengetahui tentang keistimewaan bulan Ramadhan, niscaya mereka berharap bahwa satu tahun adalah bulan Ramadhan seluruhnya.

Puasa bulan istimewa, tapi hanya Allah saja yang mengetahui bagaimana nilai luar biasanya Ramadhan dibanding bulan-bulan lain, kita hanya diberikan sedikit bocoran tentang Ramadhan, tentang terbukanya pintu-pintu surga, berlipatnya segala pahala, ditutupnya pintu neraka dan terbelenggulah syetan-syetan.

Kunci dari kesempurnaan puasa tidak hanya mentarbiyah hati untuk menghindari hal-hal yang membatalkan puasa dan menghindari maksiat, tapi juga mensucikan harta kita. Untuk itu Allah tidak hanya mensyariatkan puasa tapi juga memerintahkan untuk mengeluarkan zakat. Zakat merupakan salah satu dari 5 pondasi Islam. Ada puluhan ayat Al-Qur’an yang membicarakan tentang zakat, ada yang menggunakan kalimat “sedekah wajib” untuk memaknai zakat dan dalam tekstualnya banyak yang disejajarkan dengan perintah sholat: “istiqomahkanlah sholat dan tunaikanlah zakat atau dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, adapun huruf ‘athaf yang mengiringi perintah sholat dan zakat tersebut bernilai komplementer, tidak bisa dipisahkan atau dijadikan opsi salah satunya. Sehingga para ulama berijma’ bahwa zakat merupakan ibadah yang wajib hukumnya. Pengingkaran pada pengeluaran zakat adalah bentuk kekufuran. Zakat berbeda dengan kewajiban ibadah lain, sebab zakat merupakan ibadah ijtima’iyyah, dalam pelaksanaannya tidak hanya bersifat vertikal (hablu min Allah) tapi juga horizontal (hablu min an-Nas). Ada dimensi ta’abbudi (bernilai ibadah) dan dimensi sosial, pada dimensi ta’abbudi tidak lepas dari ilmu tentang zakat, seseorang yang wajib membayar zakat (muzakki) harus mengetahui mulai jumlah harta, pengklasifikasian, prosentase zakat, pendistribusian, dan siapa saja yang wajib menerima zakat (mustahiq) yang masuk pada dimensi sosialnya.

Imam Al-Ghazali memperingatkan kita bahwa zakat merupakan hal yang sangat urgent kaitannya dengan sosial, tasahul atau ceroboh dalam zakat dengan tidak memperhatikan aturan-aturannya secara syar’i sejatinya tidak berpengaruh pada diri sang faqir (mustahiq), tapi berpengaruh pada diterima atau tertolaknya ibadah zakat bagi muzakki. Karena itu menjadi penting bagi kita memiliki bekal keilmuan untuk melaksanakan zakat sesuai dengan syariat.

BAZNas (Badan Amil Zakat Nasional) dan IDB (Islamic Development Bank) merilis jumlah pendapatan zakat umat Islam di Indonesia mencapai hampir lima trilyun pertahun, angka yang cukup fantastis dalam segi religiusitas. Besarnya jumlah ini jika tidak dikelola dengan baik akan mudah disusupi kepentingan-kepentingan di luar tujuan diselenggarakannya zakat.

Zakat sendiri memiliki regulasi yang tidak hanya diatur oleh agama, tapi juga menjadi urusan publik bahkan menjadi urusan negara, sehingga lahirlah beberapa peraturan zakat seperti undang-undang Pengelolaan Zakat nomor 23 tahun 2011, PP nomor 14 tahun 2014 tentang Pedoman Penerimaan Zakat Nasional dan adanya Lembaga BAZNas (Badan Amil Zakat Nasional) yang anggotanya dipilih oleh tim Kementrian Agama dari kelompok masyarakat dan pemerintah. BAZNas memiliki tugas khusus untuk mendistribusikan zakat kepada 8 ashnaf (golongan yang berhak menerima zakat). Namun seiring dengan perkembangan jaman, BAZNas memiliki fungsi yang lebih relevan dengan perkembangan konteks pemberdayaan ekonomi masyarakat. Fungsi tersebut adalah pendampingan. Ada 3 tahap pendampingan mustahiq zakat, yaitu: (1) Perintisan, (2) Penguatan dan (3) Pemandirian. BAZNas merintis dengan cara menumbuhkan rasa saling percaya antar anggota kelompok, lalu penguatan usaha yang merupakan jaringan akses pemasaran maupun sarana informasi. Pada tahap pemandirian ditandai dengan stabilitas usaha, standarisasi mutu produk dan penguatan modal. Selain itu BAZNas menggerakkan paradigma transformasi melalui manajemen zakat yang diorganisasi lembaga, didasarkan pada upgrade mentalitas masyarakat bahwa kelompok penerima zakat bukanlah semata-mata penerima pasif zakat, mereka juga memiliki potensi keberdayaan. Transformasi tersebut bisa berarti meluaskan kaidah bahwa seorang mustahiq bisa menjadi seorang muzakki.

Pada tahap ini BAZNas juga berperan sebagai pengkader para dhuafa dalam membantu mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

Di antara hikmah dari zakat adalah mengikis sifat kikir dari dalam hati serta memperlemah kecintaan kita pada harta. Sementara itu kecenderungan untuk memperoleh nama dan kedudukan dalam masyarakat lebih menguasai jiwa seseorang daripada kecintaan pada harta itu sendiri (riya’), kedua sifat tersebut (kikir dan riya’) di akhirat kelak akan menjerumuskan seseorang ke jurang kebinasaan. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin bagian Rubu’ul Muhlikat, penggambaran atau metafor bagi orang yang kikir ibarat Kalajengking, dan orang yang riya’ ibarat Ular besar. Maka apabila seseorang yang mengeluarkan zakat memiliki tujuan agar mendapatkan pujian atau jabatan jadilah ia dengan sengaja menambah kekuatan Ular tersebut dengan sebagian kekuatan Kalajengking. Adapun yang menambah kekuatan itu adalah membiarkannya tanpa kendali. Sementara itu, usaha yang memperlemahnya adalah mujahadah atau perlawanan jiwa terhadap kedua sifat itu serta mengerjakan hal-hal yang bertentangan dengannya.

Mari kita renungkan, faedah apa yang diperoleh dari upaya melawan kecenderungan sifat kikir jika dalam waktu yang sama kita juga menuruti sifat riya’? Hasilnya tak lebih dari melemahkan sifat kikir dan menguatkan sifat riya’ ataupun sebaliknya melemahkan sifat riya’ tapi memperkuat sifat kikir. Berzakat adalah niat menjalankan syariat dengan mengharap diterimanya amalan kita, tertebuslah dosa kita, disucikanlah harta kita yang berimplikasi pada keberkahan hidup kita.

Lihat Juga

Tarbiah Ruh, Tribute to Guru Budi

Oleh: Uswatun Hasanah (Guru ngaji di PP. Al-Azhar) Seorang santri di salah satu pesantren kedapatan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + 10 =


Selamat datang di website Al-Azhar | Islamic Education Center :: Dapatkan informasi menarik dengan follow Twitter kami @ppalazhar :: Saran, masukan, informasi, dan artikel bisa dikirimkan ke email: admin@alazhar.id atau hubungi: (0321) 383333.