Tarbiah Ruh (Tribute to Guru Budi)

Oleh: Uswatun Hasanah (Guru Ngaji di PP. Al-Azhar)

Seorang santri di salah satu pesantren kedapatan membawa miras, sebagai seorang guru yang tidak hanya berkewajiban mengajar tapi juga mendidik ditegurlah kang santri. Bagaimana bisa barang haram masuk ke Majelis Ilmu? Lautan berkah bagi santri yang tenggelam hingga ke dasarnya? Sang Guru mulai prihatin, menangis batinnya dan menjerit hatinya, dibukalah baju kang santri, dipanggang ia di teriknya matahari, disiram sekujur tubuhnya untuk mengembalikan akal sehatnya dari pengaruh miras, lalu kang santri mengaku bahwa bapaknya yang membawakannya, sang guru yang mulia  memaafkannya, berharap santri tersebut kembali ke jalan Allah, jalan kedzaliman teramat banyak dan bercabang, setan tidak hanya menggoda manusia di jalan yang begitu mudah dirusak, tak hanya di celah-celah hati siapapun manusia, di pesantren yang membatasi ruang gerak perbuatan rusak dan culas, para setan siap bergerilya, barangkali ada satu atau beberapa anak Adam yang bisa di ajaknya untuk menuju penderitaan abadi, neraka. Tapi Nur Allah terbias di hati sang guru mulia, ditataplah wajah santri muda itu, kang santri mulai menggigil entah antara dendam atau ketakutan, ia merunduk dari mata-mata yang memandangnya jijik di lapangan takzir. “Ah, ini tak sepenuhnya salahnya”, batin guru. Orang tuanya harus dipanggil, bukan ingin memberikan seminar parenting ala-ala barat dengan materi mengatakan jangan pada anak dialihkan dengan kata-kata lain yang harus mikir panjang dan njelimet yang lagi booming itu. Tidak, Sang Guru hanya ingin meluruskan pandangan orang tuanya bagaimana cara membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh diberikan pada anak seusianya. Sesederhana itu. Santri itu tidak dikeluarkan, tapi dididik kembali dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Surat cinta dari sang guru kepada orang tua kang santri tiada berbalas, hingga beberapa hari berikutnya datang surat. Bukan surat balasan dari orang tua kang santri, tapi surat itu dari Bapak Polisi dengan delik aduan yang disampaikan oleh wali dari kang santri. Sang guru mangkat ke kantor polisi, dan di bui. Oh, nasib guru seperti Yusuf masa kini, guru mencubit murid yang enggan melaksanakan solat duha sebagai salah satu peraturan di Sekolah Islam pun berakhir di bui, menolak lupa pada peristiwa pemukulan guru karena memberikan sanksi pada murid. Guru, oh nasibmu. Bukan gaji yang dikejar guru, bukan sertifikasi yang diharapkan guru, tapi tolonglah hargai guru, sebagai manusia saja, yang juga membutuhkan rasa aman dan nyaman, agar luas hati guru dalam mendidik. Sekalipun pengabdiannya terkadang tak dihargai.

Dan pada tanggal 1 Februari, dunia pendidikan kembali berduka. Guru Budi dari Sampang telah wafat. Di kepalanya menanggalkan luka, luka yang dirongrong oleh kinasihnya, muridnya sendiri. Masih teringat bagaimana indahnya lukisan yang digoreskannya, merdunya alunan biola yang dilantunkannya, dia tidak peduli berapa gajinya yang hanya ratusan ribu. Dia pecinta seni yang membaktikan seluruh kemampuannya untuk sesama makhluk, dia bukan hanya pengajar, dia pendidik, dia hanya menegur anaknya yang tidak serius dalam belajar, ya.. Hanya menegur, menegur dengan cara asyik, dia menorehkan tinta ke pipi anaknya, dia hanya ingin memberikan sanksi dengan cara bercanda, agar suasana tidak tegang, dia tidak menampar, tapi candaan Guru Budi menjadi musabab mautnya. Guru Budi, oh.. Guru Mulia, kini engkau bisa melantunkan nyanyian indah biolamu di surga. Tidak akan ada lagi yang terancam dengan sanksimu, tidak akan ada lagi yang menyakitimu dengan menghantam kepalamu, engkau bisa memintakan langsung pada Tuhan untuk ketegaran istri dan calon anakmu yang berumur 4 bulan di kandungan istrimu. Kelak jika ia lahir, istrimu dengan bangga mengatakan “Nak, ayahmu adalah pahlawan pendidikan, dia syahid saat sedang mengajar”

Serentetan peristiwa yang meresahkan di dunia pendidikan senantiasa bergulir tiada henti, guru adalah keramat, sama keramatnya dengan orang tua, durhaka tidak hanya anak kepada orang tuanya, tapi juga murid kepada gurunya. Orang tua kami zaman dahulu senantiasa mengingatkan untuk tetap berbakti kepada guru, jika kami mengatakan kepada orang tua kami kalau kami dipukul guru kami mereka bukannya membela kami, mereka malah interogasi kami jangan-jangan karna memang kita yang nakal, atau melanggar peraturan. Masih mending ditanyai, terkadang malah ditambah dipukul. Apes, sudah jatuh tertimpa tangga. Tapi justru dari situlah keberhasilan pendidikan seorang anak. Kita ini tidak usah ndakik-ndakik ngikuti parenting-parenting mahal atau parenting dari barat yang tertulis di beberapa internet.

Lihatlah bagaimana orang tua kita dulu mendidik kita, sekalipun ada beberapa perbedaan cara pengasuhan, karena bagaimanapun kata Sayyidina Ali “Didiklah anakmu sesuai zamannya”, tapi setidaknya inti dari pendidikan orang dulu dan orang sekarang masih sama “diajari sayang pada sesama dan hormat pada yang lebih tua”. Dukung anak untuk menghormati guru-gurunya, percaya atau tidak, keberhasilan seseorang dilihat dari bagaimana caranya menyayangi dan memuliakan orang lain, saat di rumah anak-anak memuliakan orang tuanya, dengan tetangga mereka hormat, pada teman-temannya mereka sayang, di sekolah mereka memuliakan guru-gurunya. Menitipkan anak pada sekolah atau lembaga pendidikan tidak lantas menjadikan mereka bebas dan lepas tangan, yang penting mbayar. Tentu saja tidak seperti itu, ada tarbiah jasad ada tarbiah ruh, Mendidik dengan raga mendidik dengan jiwa.

Tarbiah jasad seperti tetap memberikannya asupan makanan dan minuman yang sehat dan bergizi juga menjamin kesehatan anak. Tarbiah ruh berupa kehalalan makanan yang masuk ke tubuh anak juga makanan yang diusahakan orang tua dengan jalan yang halal pula. Tarbiah ruh adalah menasihati anak, memberikan contoh perilaku-perilaku yang baik kepada sesama, karena anak adalah peniru ulung, anak melakukan apa yang dilakukan orang tua. Bagaimana cara orang tua memakai baju, cara makan, cara duduk, cara berbicara, segala yang nampak pada tingkah laku anak adalah meniru orang tua. Gus Miek pernah dawuh Dandani anak, dandani bojo, nggae cangkem, nggae kata-kata, nasehat niku mpun mboten usum. Sing usum damel getaran bathiniyyah. Termasuk anake di fatihai siji-siji, sopo weruh, kenek sinare fatihah, dadi kebuka anak-anake dadi sholeh, gelem nyantri, gelem sholat.. artinya “Mendidik anak, mendidik pasangan pakai nasehat, pakai kata-kata sekrang ini sudah tidak zaman, sekarang zamannya mendidik anak dengan getaran batiniyah. Termasuk anaknya dibacakan fatihah satu-satu, siapa tahu kena cahaya fatihah, maka terbukalah hati mereka menjadi orang yang shalih, mau belajar, mau sholat”. Tidak perlu orang tua memasang cctv dan memberikan gadget dengan aplikasi yang dapat mendeteksi keberadaan anak, apakah mereka di sekolah atau lagi ngabisin uang saku di game online atau bahkan ke sekolah tapi hobinya tawuran dan berani sama guru, setiap harinya resah memikirkan anak, cukup dengan memberikan dia makanan yang halal dan didapatkan di jalan yang halal pula. Berikan kenyamanan dan kasih sayang yang sesungguhnya, bukan sekedar memanjakan mereka, menuruti aduan mereka, apalagi mendakwakan guru-guru yang mengajarkan mereka ilmu pengetahuan. Karena sampai kapanpun, tidak akan bisa orang tua membayar pengabdian guru kepada murid-muridnya. Meskipun bayarnya mahal. Ada yang tidak bisa orang tua beli dari guru-guru anaknya, yakni doa dan riyadlohnya. Guru tidak pernah berhenti berdoa untuk muridnya. Bahkan, ada banyak guru yang setiap hari sholat malam demi khusus mendoakan murid-muridnya.

Kegiatan belajar-mengajar bisa berjalan lancar jika 3 hal terpenuhi: keridloan guru, keridloan murid dan keridloan orang tua. Guru yang ikhlas mengajar muridnya dan murid yang ikhlas belajar juga orang tua yang mendukung anak-anaknya mendapat ilmu yang bermanfaat akan melahirkan generasi-generasi yang unggul, yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah. Tidak akan ada lagi kejadian guru menganiaya murid, orang tua murid menganiaya guru, mahasiswa membunuh dosen, dsb. Semoga kita senantiasa dianugrahi kewarasan dan akal sehat dalam mendidik putra-putri kita.[]

Leave a Comment