Mengaplikasikan Sifat-sifat Ketuhanan pada Kepribadian Manusia

Oleh: KH. M. Ma’shum Maulani (Pengasuh PP. Al-Azhar Mojokerto)

Hari raya Idul Fitri merupakan momen yang ditunggu ummat Muslim di seluruh dunia, Idul Fitri bermakna kembali berbuka, yakni diperbolehkan kembali untuk makan dan minum tanpa berpuasa lagi setelah satu bulan beribadah puasa, puasa sejatinya adalah mensifati sifat Allah sebagai mana Sabda Nabi “takhallaq bi akhlaqillah”, berakhlaklah dengan akhlak Allah, Allah tidak makan, Allah tidak minum, tidak berhubungan badan, karena bagaimana mungkin berhubungan badan sedangkan Allah tidak beristri, tidak beranak. Lam Yalid wa Lam Yulad, yang membedakan adalah ada saat untuk berbuka bagi makhluk, sedangkan Allah tidak, dari sinilah tujuan puasa, untuk menekan kesombongan sebagai makhluk, bahwa tidak ada yang bisa menandingi Maha Perkasa Allah. Puasa tidak hanya mensifati sifat Allah yang tidak makan dan tidak minum, namun juga mensifati sifat yang lain, seperti Ash-Sobuur yakni mampu bersabar dan menahan amarah, Al-Quddus mensucikan diri dari sifat buruk, Al-Ghoni tidak bermental miskin, Rahman Rahim mengasihi makhluk Allah, Al-Wahhab gemar bersedekah dan lain sebagainya. Pada malam-malam puasa juga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dimulai dengan salat tarawih, tadarrus, i’tikaf, tidak memperbanyak tidur, sebab Allah tidak tidur tidak pula mengantuk, untuk dapat menuju Allah maka kosongkan diri (takhalli) dari sifat-sifat buruk dan kotoran yang menggelapkan hati agar hanya dipenuhi dengan Cahaya Ilah (Nurullah).

Idul Fitri juga bisa dimaknai dengan kembali suci, sebagaimana Sabda Nabi “Man shooma Romadloona iimaanan wa ihtisaaban ghufiro lahu maa taqaddama min dzanbih.” Barang siapa yang berpuasa pada Bulan Ramadhan dengan penuh kepercayaan dan keikhlasan maka akan diampuni oleh Allah dosa-dosanya yang telah lalu. Seorang mu’min yang berpuasa dengan penuh kepercayaan bahwa Puasa ini adalah syariat dari Allah yang tidak bisa ditawar atau ditangguhkan (kecuali bagi orang-orang yang diberikan rukhsoh oleh Allah) dan menjalankan dengan lillahi ta’ala tidak tanggung-tanggung pahalanya adalah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, itu yang dijelaskan oleh Allah melalui sabda Nabi, padahal pada Hadis lain yakni pada Hadis Qudsi Allah berfirman “Puasa itu untukKu, dan Aku sendiri yang akan mengganjarnya”. Telah banyak dijelaskan dalam Hadis tentang bagaimana luar biasanya ibadah yang berupa puasa ini, sehingga disebutkan pula dalam Hadis yang merupakan kebahagiaan terdahsyat bagi seorang mu’min yakni “dua kebahagiaan orang yang berpuasa, pertama saat berbuka, kedua saat bertemu dengan Allah (kelak di Surga)”. Semoga akhlak yang kita jaga saat berpuasa menjadi bias pada keseharian kita meskipun di luar Bulan Ramadhan, karena keberhasilan menjaga akhlak kita pada kesehariannya merupakan ciri keberhasilan seorang muslim menjalankan ibadah puasa dengan penuh iman dan ikhlas, juga sebagai salah satu tanda seorang muslim mendapatkan Lailatul Qadar yang selama ini kita harapkan.

Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari, banyak yang pulang kampung untuk bersilaturrahim ke orang tua dan sanak keluarga, serangkaian kegiatan pada Hari Raya Idul Fitri telah menjadi adat bagi masyarakat Indonesia, seperti memakai baju baru, memberikan angpau kepada anak-anak, saling meminta maaf, berkunjung ke sanak keluarga, hal-hal tersebut bukanlah bid’ah, karena pada zaman Nabi, Nabi juga memberikan baju baru saat hari raya, saling berkunjung ke rumah sahabat sambil mengucapkan “taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim”, semoga Allah menerima amalan kita, pun bukanlah bid’ah seseorang yang mengucapkan Minal Aidin wal Faizin, kalimat tersebut tiap tahun selalu diucapkan selama entah berapa tahun, karena sudah menjadi adat dan bukanlah adat yang buruk maka boleh saja saat Hari Raya Idul Fitri orang-orang mengucapkan seperti itu, hanya saja yang perlu diluruskan tentang artinya, banyak yang mengira bahwa Minal Aidin wal Faizin artinya adalah mohon maaf lahir dan batin, ya tidak bisa menyalahkan yang tidak tahu mungkin sudah lazim didengarkan di lagu-lagu islami seperti itu, arti yang sebenarnya adalah Minal Aidin semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali (ke fitrah/suci) wal Faizin dan menjadikan kita orang-orang yang mendapatkan kemenangan.

Pada momen Hari Raya, manfaatkan sebaik-baiknya untuk silaturrahim, Shilah bermakna hubungan, rahim bermakna kasih sayang, silaturrahim adalah menyambung kasih sayang antar kerabat, tetangga, sanak saudara, dan jangan segan untuk bertanya adakah kesalahan saya yang menyakiti tolong diungkapkan, lalu memohon maaf secara khusus atas kesalahan yang pernah dibuat tersebut. Hidup berdampingan dengan keluarga dan tetangga harus menjadi jiwa-jiwa pemaaf, luaskan maaf untuk mereka yang pernah menyakiti, berikan maaf untuk mereka yang tidak sengaja menyakiti, karna Tuhan Maha Pemaaf, maka sifatilah sifat Tuhan dengan memaafkan makhluk-makhlukNya.

Leave a Comment