Ingin Servis Moral? Ayo Mondok!

Oleh: Syauqie Advan F (Guru di PP. Al-Azhar)

Sudah sangat sering kita melihat di berbagai media tentang perilaku amoral yang dilakukan para remaja maupun orang dewasa, baik perilaku yang menyimpang dari norma agama, adat, budaya bahkan dari hukum negara yang bisa dikategorikan ringan hingga kriminal  berat, seperti narkoba, miras, judi, tawuran, pembunuhan, pemerkosaan dan lain sebagainya. Ironisnya berbagai kejahatan tersebut didominasi oleh generasi baru atau para pemula di usia remaja.

Para remaja umumnya mempunyai ego tinggi tentang eksistensi diri dan biasanya lebih suka bersikap anti konformitas (mukhalafah) agar cepat diperhatikan segala sesuatu yang sebenarnya ada pada dirinya. Dalam hal ini usia remaja sering berbuat salah, sehingga predikat negatif banyak melekat pada remaja dan itu semakin melemparkan mereka jauh dari tatanan yang ada (misalnya kenakalan remaja). Sifat dasar manusia adalah enggan dimaki dan disalahkan (meski makian itu sesuai dengan perilakunya) tak terkecuali para pemuda.

Al-Qur’an sudah menggambarkan betapa Tuhan sengaja mengekspresikan semangat para remaja dalam merespon problem yang mengitari dirinya. Suatu situasi yang timbul berlawanan dengan norma, akan menarik nalurinya bergerak mengatasi dengan cara apa saja yang dimiliki. Naluri itu secara psikologis ada pada diri setiap manusia dan cukup sensitif serta sangat berpotensi jika diberdayakan secara optimal. jiwa remaja itu oleh para ilmuwan dinilai masih lumayan obyektif karena belum banyak kepentingan. Namun tidak dipungkiri, bahwa watak dasarnya tetap agresif-emosional. Karena itu mereka tetap tidak bisa berjalan sendiri, harus dibimbing atau disatukan persepsinya. Maka wajar bila Tuhan menyatukan jiwa pemuda goa (ashab al-kahfi) agar terbentuk kumulasi (penyatuan) ide yang membulat (QS. Al-Kahfi: 14).

Usia remaja adalah usia dimana seseorang mengalami pertumbuhan fisik dan pola berpikir. Jika luput dari perhatian, sangat mungkin sekali perilakunya akan menyimpang, terkait “moral, cara berpikir dan bertindak”. Timbulnya perubahan yang cepat pada diri remaja membutuhkan sesuatu agar mereka bisa menjaga diri dari pengaruh pergaulan yang negatif. beberapa paparan referensi tentang penyikapan terhadap problem para remaja dapat dilihat pada paparan berikut ini :

Pertama, faktor utama dalam membangun karakter seorang anak adalah orang tua dan lingkungan. Jika hubungan itu buruk, yang terjadi adalah tidak terkontrolnya jiwa dan akal si anak tersebut. Ketidakpedulian dan ketidakharmonisan orang tua menjadi hal yang vital, jika anak tidak mendapatkan dua hal tersebut maka berakibat fatal. Ibarat anak ayam yang kehilangan induknya, dan kita tahu jika sudah menyangkut dengan masalah itu, anak ayam tanpa induknya selalu menjadi mangsa yang empuk. Tak terkecuali para remaja, jika kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua, dia akan mencari “dunia lain” yang negatif. Hasilnya, dia akan berani menyangkal orang tua, jarang pulang, salah pergaulan yang berujung pada perbuatan negatif.

Terkait pergaulan, Kanjeng Nabi SAW sudah memberikan gambaran, “Perumpamaan teman bergaul yang buruk adalah seperti peniup api tukang besi, bisa jadi dia akan membakar pakaianmu, atau (minimal) kamu akan mencium darinya bau yang tidak sedap”. Artinya, pergaulan dengan lingkungan sekitarnya sangat mempengaruhi sikap dan cara berpikir khususnya para remaja. Masih labilnya cara berpikir mereka hingga memaksa orang tua untuk terus memperhatikannya.

Kedua, banyaknya waktu luang para remaja membuat pikiran bisa jumud, jika sama sekali kita membiarkannya menganggur, buntu dan membuat mereka lemah sehingga jiwa juga lemah. akibatnya, khayalan dan bisikan-bisikan pemikiran buruk, melahirkan keinginan-keinginan yang buruk pula, maka waktu akan terbuang dengan sia-sia. Karena manusia selalu membutuhkan aktifitas, untuk menghindari kekosongan, dan membiasakan berpikir. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya seorang remaja berusaha mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti membaca, menulis, kursus bahasa, belajar, menjalankan usaha, membantu kesibukan orang tua atau kegiatan lainnya, lebih-lebih kegiatan itu bermanfaat bagi orang lain walaupun hanya aktifitas sepele. Kata orang jawa “Sing penting obah, ora obah ora mamah” artinya, yang penting bergerak, (beraktifitas), tidak bergerak maka tidak menghasilkan sesuatu.

Ketiga, meluruskan persangkaan yang keliru di kalangan remaja terhadap ajaran agama. Persangkaan seringkali menimbulkan ketidakpahaman. Ada yang menganggap aturan di dalam agama hanya mengekang kebebasan dan mematikan potensi mereka. Padahal, agama mempunyai fungsi mengatur dan mengarahkan dengan baik kebebasan tersebut (lebih tepatnya hawa nafsu), agar tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain.

Pesantren dan pendidikan moral

Sebagai institusi pendidikan tertua di Indonesia, Pesantren memiliki segudang nilai-nilai yang belum begitu dieksplorasi oleh kalangan internal pesantren sendiri. Dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, kita telah melihat bagaimana kontribusi nyata pesantren dalam melahirkan pemimpin yang berkarakter, kuat, militan, penuh integritas, gigih, visioner, pantang menyerah dan ikhlas dalam berjuang. Kontribusi tersebut tidak berhenti pada masa perjuangan bangsa, melainkan hingga dewasa ini, pimpinan institusi tertinggi negara banyak yang dipimpin oleh tokoh nasional dengan latar belakang pesantren.

Melihat pendidikan Pondok Pesantren Setidaknya ada berbagai macam keunggulan yang dimilikinya. Antara lain:

Pertama, menggunakan pendekatan holistis dalam sistem pendidikannya . Artinya para pengasuh pondok pesantren memandang bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan kesatupaduan atau lebur dalam totalitas kegiatan hidup sehari-hari. Bagi warga pondok pesantren, belajar di pondok pesantren tidak mengenal perhitungan waktu.

Kedua, memiliki kebebasan terpimpin. Setiap manusia memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi, karena kebebasan memiliki potensi anarkisme. Kebebasan mengandung kecenderungan mematikan kreatifitas, karena pembatasan harus dibatasi. Inilah yang dimaksud dengan kebebasan yang terpimpin. Kebebasan terpimpin adalah watak ajaran Islam dan hal tersebut dapat dilihat dalam pola pendidikan di Pondok pesantren.

Ketiga, berkemampuan mengatur diri sendiri (mandiri). Di pondok pesantren, santri mengatur sendiri kehidupannya menurut batasan yang diajarkan agama. Para santri melakukan sendiri aktivitas keseharian mereka dengan independen. Mereka melakukan aktivitas keseharian secara mandiri.

Keempat, memiliki kebersamaan yang tinggi. Dalam pondok pesantren berlaku prinsip; dalam hal kewajiban harus menunaikan kewajiban lebih dahulu, sedangkan dalam hak, individu harus mendahulukan kepentingan orang lain melalui perbuatan tata tertib.

Kelima, Mengabdi kepada orang tua dan guru. Tujuan ini antara lain melalui pergerakan berbagai pranata (norma) di pondok pesantren seperti mencium tangan guru, membungkuk ketika berjalan di depan guru, dan tidak membantah guru beserta dengan keluarganya.

Untuk itulah pesantren hadir di tangah-tengah kita, selain mencetak anak didik yang tafaqquh fiddin, berwawasan luas juga mencetak anak didik yang bermoral. Sehingga lumrah dalam dunia pesantren dengan sebutan bahwa pesantren sebagai bengkel moral, karena memang tidak ada lembaga lain yang memang inten, mengayomi anak didiknya dalam perbaikkan moral, kecuali pesantren. Sungguh besar jasa pesantren bagi bangsa ini, makanya orang tua yang sadar dan mengerti tentang kemorosatan moral remaja saat ini, dengan mengantarkan putra-putrinya ke dunia pesantren karena memang tujuan utamanya adalah servis moral. []

Leave a Comment