Anak Istimewa

Oleh: Virly Taqwin (Guru TK Al-Azhar)

Anak adalah anugerah terindah dari Allah SWT. Jika ibu dititipi anak presiden, apa yang akan ibu lakukan? Pasti ibu akan menjaganya dengan baik, sebisa mungkin melindunginya dengan sangat hati-hati, apapun yang diminta sang anak presiden pasti dituruti, kesalahan dan kekeliruan apapun yang dilakukan pasti dimaafkan.

Saya berfikir bahwa hal itu sangat wajar mengingat yang menitipkan adalah seorang pimpinan negara. Tapi pernahkah ibu berfikir jika anak-anak tersebut adalah anak kita sendiri? Ketika melakukan kesalahan saja, misalnya. Apa yang terjadi? Amarah membara dalam hati, semua ucapan kekesalan terlontar.

Lalu, siapakah yang berkuasa lebih tinggi? Siapa pemilik titipan yang lebih tinggi jabatanya? Tuhanlah yang menitipkan anak-anak kepada kita. Andai setiap orangtua bisa menghargai anak-anaknya, pasti Sang Pemilik titipan bahagia. Setiap anak ada rasa ingin dipahami, ingin diperhatikan. Tidak, ini bukan tentang banyaknya waktu yang dicurahkan orangtua, tetapi sekualitas apakah waktu orangtua mendampingi anak. Ada quantity time dan ada quality time. Mungkin tidak semua orangtua memiliki banyak waktu bersama anak, tapi ketika bersama anak manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya untuk lebih perhatian dengan anak-anak sehingga anak-anak merasa diperhatikan.

Anak adalah cermin orangtuanya. Tapi orangtua jarang yang menyadari bahwa anaknya adalah cermin dirinya.

Saya adalah seorang pengajar tapi saya tidak ingin hanya sekadar mengajar anak-anak, saya ingin menjadi pendidik untuk anak didik saya. Karena guru sejatinya bukanlah profesi, tetapi menjadi guru adalah bentuk pengabdian terhadap ilmu pengetahuan.

Saya memiliki pengalaman mengajar  12 tahun sekaligus menjadi fasilitator pendamping sekolah. Saya mendidik anak mulai dari kelompok bermain (paud) hingga anak-anak sekolah menengah pertama. Terkadang pangling ketika bertemu dengan mereka yang lama belajar dengan saya tiba-tiba bertemu di suatu tempat mereka sudah kuliah, sudah bekerja. Tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Saya mengira pengalaman mengajar yang terberat adalah pada saat mendidik anak-anak yang sudah mulai beranjak dewasa yaitu pada anak sekolah menengah pertama, karena saya merasa anak-anak usia SMP adalah masa-masa transisi, mereka bertumbuh menuju proses pendewasaan, mereka juga sudah mengenal dunia pergaulan yang luas. Ternyata saya salah, masa terberat justru ada pada masa-masa mengajar dan mendidik Kelompok Bermain, saya percaya dengan adanya masa golden age, di mana perkembangan anak sangat pesat pada masa keemasan mereka, yakni usia 0 hingga 5 tahun.

Di saat mendidik anak usia golden age ini, saya menemukan berlian-berlian yang berkilauan dengan indah, pada merekalah, calon-calon insan yang mulia bertumbuh. Di antara mereka ada anak-anak yang istimewa. Anak itu istimewa karena Tuhan memberinya sesuatu yang berbeda dengan teman-teman lainnya, saya menyebutnya anak surga, karena orangtuanya adalah pemilik surga yang sesungguhnya.

Suatu hari saya melihat seorang guru yang terlihat hanya mendampingi anak istimewa tersebut. Dengan sabar mengajak berkomunikasi, terkadang dengan nada tinggi, sampai hati saya tak mampu melihatnya. Tapi istimewanya, anak tersebut meresponnya dengan baik. Sesekali guru itu menatap mata anak itu sambil berucap lirih. Subhanallah, mungkin hati guru itu juga tidak tega tapi ternyata inilah caranya. Saya hanya sebagai penonton saja karena saya bukan pada bidang tersebut.

Suatu waktu terlihat anak tersebut berontak ingin lepas entah ingin apa. Tapi guru itu memeganginya dengan kuat sambil memberi perintah dengan nada tinggi “diam, diam, duduk!”. Anak istimewa itu mengikuti perintah sang guru, tapi dalam beberapa waktu lagi dia berontak sampai akhirnya guru melepaskannya. Saya yang penasaran pun bertanya perihal apa yang dilakukan guru. Beliau menjawab agar anak tersebut fokus. Baiklah saya menerima alasanya. Tapi saya masih penasaran haruskah memakai nada tinggi? Saya berusaha mendekati anak tersebut. Saya berucap dengan nada sewajarnya untuk berkomunikasi dengannya, tapi dia tidak meresponnya. Saya mencoba dengan nada tinggi seperti sang guru, dan ternyata anak itu langsung menoleh dan tersenyum. Subhanallah, indah sekali senyumannya. Tapi dia langsung pergi meninggalkan saya dan melanjutkan imajinasinya.

Lama saya mengikuti perkembangan anak istimewa ini. Sekarang terlihat dia berkembang dengan begitu baik, bisa bersalaman dengan gurunya, bisa melepas sepatunya sendiri. Dia sudah bisa tenang dan jarang berontak. Inilah hebatnya sang guru. Ikhitar dan doanya luar biasa. Anak itu berubah dengan baik. Subhanallah Allahu Akbar, hati ini serasa ikut menangis bahagia.

Saya mengintip anak tersebut saat istirahat, ternyata gurunya sedang menyuapinya. Subhanallah, surga mana yang akan kau dapat wahai sang guru? Dalam segi kognitif, anak tersebut belum sesuai dengan perkembangannya, tapi dalam sikap dan pembiasaan anak tersebut luar biasa akhlaknya. Orangtua sang anak juga sangat bangga pada anaknya dan bersyukur. Banyak ucapan terima kasih dan doa terucap untuk guru anaknya.

Anak istimewa adalah anugerah, bahkan setiap anak adalah titipan terindah dari sang pejabat tertinggi di semesta ini. Kita orangtua tidak mungkin dengan mudah menerima titipan anak yang istimewa, tapi ada orangtua pemilik surga yang Tuhan percaya untuk merawat, mendidik, dan membimbing anak istimewa.

Selamat menjadi orangtua yang hebat dan luar biasa untuk anak–anak kita. Pahami diri terlebih dahulu agar lebih bisa memahami anak kita. []

Leave a Comment