Pembelajaran Daring dan Ketidaknormalan di Era New Normal

Oleh: Uswatun Hasanah (Kepala Madrasah Alquran Al-Azhar)

Telepon seluler/laptop canggih, kuota banyak, sinyal lancar, guru profesional menyajikan video sesuai mata pelajaran dengan terampil dan kreatif, inovatif juga menarik, orangtua sabar mendampingi anak belajar daring (dalam jaringan), murid menyimak dan memahami arahan guru, sekolah dengan kondisi rumah yang bersih, longgar, dan nyaman.

Situasi tersebut adalah situasi yang paling diidam-idamkan oleh seluruh masyarakat dalam dunia pendidikan selama pandemi Covid-19.

Sayangnya, tidak semua keadaan seindah yang dibayangkan. Istilah “kita berada di badai yang sama dengan kapal yang berbeda” memang benar-benar narasi yang sesuai dengan keadaan saat ini.

Ada situasi di mana alat komunikasi antara guru dan orangtua memadai untuk sekolah daring namun anak sedang dalam suasana yang tidak nyaman untuk daring.

Ada situasi di mana orangtua tidak bisa mendampingi anak belajar daring karena harus bekerja, ada pula yang orangtua tidak ma(mp)u mendampingi karena merasa hal tersebut sangat merepotkan dan bukan bidang yang digeluti oleh para orangtua main ‘guru-guruan’.

Di pelosok desa sana, di suatu tempat yang terpencil, jangankan sekolah daring, sekolah tatap muka pun mereka masih kesulitan karena fasilitas gedung atau kelengkapan belajar mengajar yang kurang memadai. Telepon seluler? Boro-boro. Mereka bisa bekerja serabutan untuk makan saja sudah sangat bersyukur, pendidikan formal menjadi sesuatu yang mewah bukan lagi prioritas. Tidak heran kita jumpai usia anak yang masih tingkat SD sepulang sekolah langsung bekerja membantu orangtua. Hak belajar mereka di rumah seolah telah gugur otomatis tergantikan dengan belajar cukup di sekolah dengan fasilitas ala kadarnya.

Kita mungkin termasuk orangtua atau murid yang beruntung. Memiliki akses internet yang leluasa dan bisa menikmati sekolah daring tanpa kendala yang berarti. Tapi bagaimana saudara-saudara kita yang telepon seluler saja masih poliponik, bahkan tidak punya sama sekali? Guru-guru mendatangi rumah para murid satu per satu untuk mengajar secara langsung, kalau dulu kita mengenal istilah arab dari para ulama bahwa “Al-‘ilmu ya’tiy wa laa yu’taa”, ilmu itu didatangi bukan ilmu yang mendatangi, sekarang tidak. Ilmu yang mendatangi di tengah pandemi ini. Melihat perjuangan para guru di tempat-tempat yang tidak terjamah sinyal dan tidak mengenal teknologi sangat mengharukan, ada yang memasangkan wifi di tengah desa demi anak didiknya bisa belajar jarak jauh. Mereka memiliki beberapa inisiatif yang mampu menginspirasi dan menggemuruhkan syukur di dada kita. Di tengah gaduh tawar-menawar SPP dan UKT di beberapa sekolah dan perguruan tinggi, ada manusia berjiwa mulia, sosok asih dalam mengasuh, sosok dermawan tanpa harta yang berlebih. Siapa yang menyuruh mereka? Siapa yang membayar mereka? Hati nuranilah yang mendorong mereka melakukannya, terbayarkan lelah mereka dengan kebahagiaan bisa mengajar anak didiknya. Tanggung jawab yang jarang terfikirkan bagi kita sebagai orangtua ataupun wali murid.

Sekolah normal dengan blended learning atau tatap muka terkadang masih memiliki berbagai permasalahan yang kompleks. Baru-baru ini Mas Menteri memiliki wacana belajar jarak jauh permanen setelah pandemi berakhir. Hal ini memunculkan keresahan dari berbagai pihak. Tahun ini memang membuat pendidikan dan perekonomian ambyar, tetap saja wacana belajar secara daring menjadi permanen tidak bisa diterapkan di negeri kita ini. Katakan kita sudah melewati masa percobaan pendidikan daring kurun waktu 6 bulanan, permasalahan tentu saja kembali lagi pada SDM dan fasilitas yang tidak cukup memadai, juga hasil dari pembelajaran yang tidak maksimal.

Jika sekolah diwacanakan daring permanen, maka kelak bekerja pun hanya cukup dengan bekerja dari rumah. Perekrutan karyawan cukup dengan wawancara daring, sedangkan tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah. Ada pekerjaan yang membutuhkan kekuatan otot dan kontak fisik, tidak mungkin selamanya bekerja dari rumah.

Kita tinggal di negeri yang mengagungkan adab, tata krama, tutur kata yang sopan, tepa slira dan saling menghormati. Dan pada dasarnya kita semua adalah makhluk sosial yang interaktif, tidak bisa berdiam diri di rumah saja. Pengajaran tentang adab dan tata krama pun tidak bisa kita lakukan secara daring. Terutama di pesantren yang merupakan bengkel akhlak. Selama ini ada istilah pesantren virtual atau pembelajaran ilmu agama melalui sosial media baik audio, visual maupun audio-visual. Adapun santri virtual dari pesantren virtual tersebut adalah santri-santri yang sudah cukup dewasa dalam mengikuti pembelajaran ilmu agama secara daring. Namun untuk santri pemula yang masih butuh asupan pembelajaran adab dan akhlak dan beberapa disiplin ilmu dalam pendalaman literasi berbahasa Arab hal tersebut mustahil dilaksanakan. Sehingga ada beberapa kebijakan dari pemerintah kota atau kabupaten untuk memberikan kelonggaran kepada para pengasuh pesantren untuk membolehkan para santri masuk kembali dan mukim di pesantren dengan syarat lolos hasil Rapid Test dengan predikat nonreaktif atau tes Swab/PCR dengan hasil negatif.

Ada beberapa pesantren yang masih bertahan pembelajaran secara daring, hal ini memang tergantung kebijakan masing-masing pengasuh pesantren, dan tetap saja pesantren daring tidak akan berjalan secara maksimal. Tidak mungkin pengurus pesantren membangunkan santri tengah malam melalui telepon dan menunggu dari kejauhan sampai santri bangun lalu mengambil wudlu dan melaksanakan tahajjud, mengawasi salat jamaah lima kali sehari dan dengan siapa saja pertemanannya selama di rumah. Bagaimana mungkin bisa mengajarkan adab di depan guru dan kepada sesama teman juga masyarakat jika tanpa praktik secara kontak fisik?

Pandemi memang sungguh luar biasa dampaknya, membuat yang normal menjadi tidak normal. Istilah “new normal” dalam dunia pendidikan sedikit mengusik perhatian para praktisi pendidikan, benarkah ini yang dinamakan new normal ataukah ini merupakan ketidaknormalan dalam dunia pendidikan? Tiga inti protokol kesehatan yang berupa masker, cuci tangan, dan jaga jarak membuat kita terbiasa dengan peradaban baru, namun sisi jaga jarak memang sulit diimplementasikan dalam kehidupan di pesantren. Inilah yang mendasari wajibnya rapid test atau swab bagi santri yang mukim kembali ke pesantren.

Kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah formal atau nonformal menunggu hingga Januari 2021 saja terasa begitu lama dan tidak efektif. Apa kabar wacana belajar daring permanen? Ada baiknya dilakukan riset dan kajian akademis terlebih dahulu tentang pembelajaran daring permanen baik untuk lembaga pendidikan formal atau nonformal.

Bagi kami pendidik nonformal (pesantren, TPQ, dll) ada yang lebih krusial untuk dikhawatirkan tentang pembelajaran daring permanen. Apakah itu? Ialah keberkahan: bertatap muka dengan guru adalah suatu keberkahan, mencium tangan guru adalah keberkahan, mendidik murid adalah keberkahan, menyayangi murid adalah keberkahan, transfer ilmu secara tatap muka (talaqqi) juga keberkahan bagi guru dan murid, dan hal-hal tersebut tidak mungkin bisa diwujudkan hanya dengan video call, webinar, zoom, dan aplikasi-aplikasi pengajaran daring lainnya. Kami mengenal teknologi jarak jauh, tapi bagi kami tidak ada yang lebih canggih daripada keberkahan.

Keberkahan yang sering kita dengungkan dan langitkan dalam setiap doa bermakna bertambahnya kebaikan, kebaikan dalam hal ini merupakan kemaslahatan untuk seluruh masyarakat. Kami tentu saja menyadari bahwa pandemi ini masih lama dan tidak akan berakhir begitu saja sebagaimana wabah-wabah pendahulunya, tapi kami tetap berfikiran positif bahwa “likulli daa-in, dawaa-un”, bahwa satu virus memiliki banyak antivirus. Sambil menunggu para ahli medis menciptakan antivirus Covid-19, marilah kita meningkatkan imun dan iman, memohonkan kesehatan, kesabaran dan panjang umur untuk para ahli medis agar tetap semangat dalam menjadi garda terdepan selama pandemi, terima kasih, Nakes! []

Leave a Comment